Kamis, 11 Desember 2014

I Will Lose You

Pagi ini badanku terasa lemas, seperti tak sanggup untuk pergi keselolah, namun aku tetap memaksakan diri, aku tak mau ketinggalan pelajaran. Sesampainya diselolah, tanpa berpikir panjang aku langsung menundukan kepala diatas meja. Pemilik jam tangan ben10 itu datang, dia datang untuk menyelimutkan jaketnya ditubuhku, padahal dia tau aku sudah memakai jaket, dia juga meminjam jaket milik teman sekalas kami untuk bisa dijadikan bantal. Sekarang dia berada tepat didepanku, tidak berbicara apapun, dia melepas sebelah headsetnya dan memasangnya ditelinga kananku, dia meraih tanganku dan menggenggamnya begitu erat, tangannya yang besar cukup membuatku merasa hangat dan terlindungi, aku bilang; aku tidur ya. Dengan lembut dia mengusap kepalaku seperti bayi yang akan tidur. 

Aku terbangun karena suara bising dari luar kelas, aku kaget melihat wajahnya yang tepat berada didepan wajahku. Sangat dekat, dekat sekali. Dia wangi sekali, sampai sekarangpun aku masih ingat wangi badannya, mungkin aku tidak akan pernah lupa dengan wangi badannya. Aku hanya memandang matanya diam dalam kesunyian yang kami buat, dia tak berbicara apa-apa, hanya diam dan terus berada disitu.

...

Aku cepat-cepat mengusap air mata yang mengalir dipipiku. Sampai aku sadar, ini bunga tidur. Seperti yang aku bilang; Ini mimpi, terasa nyata.

"When the morning comes and the sun begins to rise, I will lose you because it's just a dream"

Selasa, 18 November 2014

Waktu (dulu) Semu

Waktu itu, masa yang sudah tidak akan bisa diputar kembali. Kami adalah dua orang yang rumit, bahasapun tidak akan bisa mengartikan kedekatan kami waktu itu. Kami menjalani hubungan dengan komitmen yang sangat kuat, kami terus bersama tanpa harus ada yang namanya status.

Sosok yang sampai saat ini saya kagumi itu kini mulai menjadi semu, tidak seperti dulu yang senang sekali membuat saya tersanjung dan terus tersenyum. Ketika saya sudah tidak bisa memintanya tetap tinggal dan harus rela bahwa semunya tidak lagi dapat diteruskan adalah hal yang paling berat, apalagi ketika harus memilih untuk diam dan legowo. Bagaimana saya harus menerima takdir dunia? Bagaimana cara saya menerima kenyataan ketika orang yang pertama kali memulai menggoreskan penanya dikertas putih milik saya harus berhenti bekerja.

...

Otakku tidak pernah berhenti memikirkan kegilaan yang pernah kami lakukan bersama dulu. Kegilaan-kegilaan yang membuatku merasa begitu beruntung itu telah menjadi tumpukan kertas kumal yang memenuhi ruang-ruang kosong. Kegilaan itu sudah ku susun rapi dikotak kecil berwarna hijau, aku tak berani melihatnya. Aku takut, aku takut pipi ini dipenuhi air mata lagi.

Dia menjadi satu-satunya orang yang paling sabar mengetuk pintu kamarku ketika aku mulai gerah dengan kehidupan, dengan sabar memberi petuah-petuah menyejukkan. Saya rindu sama kamu, saya rindu hujan kita, hujan dan jalanan milik kita. Disini sekarang sudah tidak ada lagi yang seperti kamu; penyuka wangi hujan. Tidak ada yang menemaniku menikmati suara hujan, saya kangen kamu. Kamu masih disini kan? Kamu dengar saya? Sekarang lagi hujan, suara petir itu menakutiku, aku rindu saat kamu menutup telingaku dengan sebelah tanganmu, aku rindu ketika kamu diomeli mamamu karena membiarkan tubuh mungilku ini dibasahi oleh air hujan, aku rindu masa sekolah kita, aku rindu naik angkot, aku rindu jalan kaki, aku rindu dibonceng, aku rindu ditilang polisi, aku rindu diajari matematika, aku rindu melihat matamu yang coklat. Aku rindu sama-sama.

Kamu pergi gak bilang-bilang, aku marah. 

Raganya sudah tiada, tertiup angin mungkin atau terbawa badai dilaut. Kehadirannya masih disini, dia melindungiku dengan kesemuan yang dimilikinya sekarang. Lihat, hujan-hujan itu menyebut namamu kencang sekali, dia ingin mengembalikan jasadmu untukku, untuk bercanda gurau dengan tetesan miliknya lagi, hujan kangen suara keras mu menyebut nama kita; namaku dan namamu. Kamu tau, hujan kangen. 

Kematiannya tiga tahun yang lalu membuatku benar-benar kehilangan akal, separuh dari hidupku seakan pergi menjauh, Aku boleh kangen turus dong? Aku kangen kamu. Kamu baik-baik ya disana. Aku tidak jadi marah. 

Saya percaya, Tuhan telah mempertemukan kita dengan tujuan yang baik, begitu pula ketika kita harus dipisahkan.

Minggu, 16 November 2014

Bidak Catur, Sangkar dan Kebebasan.

Aku tak tau.. Hidup ini seperti bidak catur, dimana orang didalamnya harus mengikuti aturan yang tak akan pernah bisa ditolak, pindahan-pindahan anak catur ini seperti gerakan tubuh yang dipaksa untuk melangkah, aku seakan bergerak mengikuti alur takdir yang tak pernah disetujui, dunia seperti permainan yang kejam dan tak adil dimana aku terus berada didalam putih-hitam bidak catur; diatur, dipindah, dihambur, terbuang, diatur kembali dan begitu seterusnya.

Mengelak pun tak mampu, aku terus berputar dalam bidak catur yang sama sekali tak kupahami, aku terus berada dalam kepura-puraan. Menampilkan senyum palsu, merasakan luka basah yang tidak akan pernah kering, sendirian.. 

Ini seperti cerita yang kau buat untukku; burung dalam sangkar. Seperti papan catur juga, aku tak bisa bebas dari aturan yang selalu mengikat kuat. 

Kau bilang akan membebaskanku dari sangkar yang menahun menjebak tubuh kecilku ini, belum sempat kau mengajariku bebas, kau malah sibuk membebaskan manusia lain, kemana kau pemilik janji? Kau tak peduli pada akhir cerita yang telah kau tulis sendiri, bahkan kau telah memulai cerita baru dengan yang lain. Kenapa kau harus memulai membuat cerita untukku kalau tak sampai pada kebebasan yang sesungguhnya, cerita ini membuatku terikat dalam sangkar yang didalamnya berisi bidak catur.

Arin&Ado
rachmadadityawarman.blogspot.com

Sabtu, 01 November 2014

Kacang.

Dia mulai bermain api, dia mulai dekat lagi dengan perempuan yang ada dimasa lalunya, aku tak ingin menjadi bensin yang menyulut besarnya api, aku terus berusaha untuk pura-pura tidak tahu, pura-pura mengelak semuanya, aku terus menganggap semuanya baik-baik saja. Aku percaya, aku percaya lelaki penyuka kacang itu.

Hujan dahsyat pagi itu, aku memaksakan diri untuk tetap pulang, aku mau air mataku jatuh bersama hujan-hujan itu, aku tak mau memperlihatkan kesedihanku, aku tak mau terkesan cengeng lagi dihadapannya. "Aku pulang duluan ya" ujarku meminta izin, dia cuma tersenyum kecut memperlihatkan muka masam. Aku melambaikan tangan dan terus tersenyum, hati ini mungkin sudah kebal atas sayatan, mungkin hati ini cocok untuk dijadikan teduhan sementara. 

Kelas sudah selesai, mendung dan gelap, matahari mungkin lelah bersinar bulan ini. Gerimis datang, gara-gara hujan kemarin aku sedikit flu, teman-temanku tak memperbolehkanku bermain-main dengan hujan lagi. Aku mulai bosan menunggu hujan, salah satu teman sekelasku meminta aku untuk menemaninya ke kamar kecil, aku duduk disebuah bangku kecil, kicauan manusia terdengar jelas, sedang ada yang asik berdua didalam kelas, air mata ini meluber kemana-mana rupanya mataku tak tahan menampung jutaan air mata, temanku kaget melihat aku seperti ini, dia membawaku kekelas untuk bertemu dengan teman-temanku yang lain, mereka dengan sabar menghiburku untuk menjadikanku kuat kembali, aku tau kuat itu hanya bertahan sementara.

Ternyata benar, aku tak kuat menahan pukulan keras itu, aku menangis semalaman, entah aku manusia jenis apa, yang bisanya menangis dan terus menyalahkan diri sendiri. Pagi-pagi pintu kamarku dibuka kencang oleh ibu, sambil berkata "kenapa? Ditinggal pergi? Semuanya tidak harus kamu miliki, setiap orang punya rasanya sendiri, setiap orang punyak hak untuk datang dan pergi" aku hanya diam, menarik selimut untuk menutupi mata yang bengkak ini.

Satu minggu yang lama, aku cukup puas terbaring lemas ditempat tidur, mencium bau obat-obatan serta tusukan jarum dimana-mana. Ini hari baru, aku tak mau dikalahkan oleh penyakit, sekarang aku harus memulai hari dengan semangat yang lebih besar, manampilkan wajah yang paling bahagia untuk semua orang, memperlihatkan senyum yang paling ikhlas untuk semua orang sama seperti sebelum kedatangannya. Dia datang lagi, dia menghampiriku mungkin ingin memperjelas semuanya, dia hanya duduk diam dibelakangku, tak berbicara apa-apa, yang aku baca dari raut wajahnya hanya bingung dan tidak tega melihat mataku yang mulai memerah, disana hanya ada aku dan dia, dia pergi dan berkata "nanti kita ketemu lagi, aku mau jelasin semuanya" 

Mungkin ini kejutan terhebat dari orang yang paling aku percaya.

Rabu, 29 Oktober 2014

Empat Huruf Saja.

Ketika aku sudah gak bisa bilang sayang lagi.

Empat huruf saja. Mungkin dari sekian huruf aku perlu empat huruf saja untuk kamu, m a a f.

Aku benar-benar lelaki pecundang, yang terus membuatnya menangis, mungkin sekarang aku sudah menjadi orang paling jahat dihidupnya, menghancurkan semua senyumnya, membuat hatinya yang dulu kuat menjadi lemah kembali, membuat rasa cinta dan sayangnya seolah dipermainkan, membuat keadaan seolah menjadi palsu dan tak berpihak padanya. 

Bagaimana bisa aku tetap dengannya jika hati dan pikiranku tertuju pada yang lain?

Aku salah, harusnya aku tak usah masuk didalam hidupnya, menjadi yang spesial dan sempurna dimatanya. Langit seakan paham benar dengannya, ia meneteskan hujan berkah untuk perempuan tangguh itu setiap hari, aku tau dia benar-benar kuat, bahkan tanpa akupun dia bisa tersenyum didepan banyak orang mengatakan kalau dia baik-baik saja. Aku tau dia hancur, aku tau hatinya menjadi butiran karena aku.

Aku tak bisa hidup dalam kepalsuan, aku mau cinta yang benar. Awalnya aku mau serius dengannya, tapi lama-lama aku merasa ada yang gak pas, aku selalu kembali. Aku tidak mau ada kebohongan, segalanya sudah cukup untuk ditutupi, aku tidak mau hatinya lebih tersakiti lagi dari ini. Aku memutuskan untuk pergi.

Dia bilang; aku tak paham bagaimana cara hatimu bekerja. Mungkin itu tamparan besar yang pantas kuterima. Sambil meneteskan air mata, perempuan yang sempat dekat denganku itu tetap tersenyum sembari menghapus air mata dengan jilbabnya, dia tak mau air matanya terlihat olehku. Malam itu malam terberat untukku, aku menjelaskan semuanya. Air matanya begitu deras jatuh kepipinya, matanya merah, dia menangis sesenggukan, tak pernah aku melihat dia seperti ini.

Malam itu aku bertanya padanya yang jawabannya; aku gakpapa, yang sekarang dijaga baik-baik ya, jangan kaya gini lagi. Aku tau dia menahan air mata yang akan jatuh dari matanya, aku tau didepanku dia berpura-pura, dia berpura-pura untuk bisa relakan hatiku. Aku terus bertanya pada dunia bagaimana caranya untuk bisa mengembalikan riangnya lagi. 

Beberapa hari setelah malam berat itu.. Aku memantau keadaannya diam-diam, dia masih sedih atas kejadian ini, dia masih tak bisa relakan aku dan lagi-lagi dia berusaha tegar dihadapan banyak orang. Dia yang bercita-cita ingin menjadi penulis hebat kini mulai bercerita lagi, aku ikut senang dia menulis lagi. 

...

Aku tidak percaya, setelah sekian lama dia masih menuliskan namaku disetiap tulisannya, aku merasa terus menjadi bayang-bayang semu yang dia kejar. Sekarang kita jarang sekali berkirim kabar, sesekali aku mengiriminya pesan, dia berubah lebih cuek sekarang, mungkin dia masih ingin meredam semuanya tak ingin aku hadir lagi.

Untuk perempuan polos yang cengeng, aku minta maaf untuk semuanya. Hari ini hujan, kamu suka sekali hujan kan? Aku rindu kepolosanmu menari-nari ditengah hujan.

Minggu, 28 September 2014

165cm

Sama seperti yang kamu minta, hujan.

Sepeti merindukan hujan, saya juga rindu jadi orang yang selalu duduk dibelakangmu, bergabung bersama teman-teman yang lain untuk menjadi sekelompok orang jail yang tiba-tiba membuatmu tertawa diam-diam. Saya tau kamu malu-malu, coba sekarang kamu senyum lagi untuk saya.

Bayangkan hujan waktu itu, disana, ditempat itu dan rasakan. Kamu bisa rasakan wanginya? Kamu bisa rasakan dinginnya? Kamu bisa rasakan suaranya? Ada siapa disana?

Kapan kamu datang, hujan. Mungkin ini seperti aku tanpa segalanya, tentu ini membuat saya sangat merindu; merindukan awan gelap, merindukan suara gemuruh diatas langit, merindukan titik pertamanya, merindukan wangi tanahnya, merindukan beceknya, merindukan air dimana-mana, merindukan langkah seribu kaki-kaki manusia. 

Kapan kita bisa lari bersama hujan? Kita belum pernah coba sama-sama kan?

Hujan tidak meminta pelangi untuk datang, dan tidak meminta pelangi untuk pergi. Jadi kamu pilih yang mana? Datang untuk pergi? Atau datang  dan tidak akan pernah pergi?

Saya tahu. Ada kamu, hujan.

Kamis, 10 Juli 2014

-

Derita jutaan makhluk tak bedosa
Berisi tangis ketidakberdayaan
Dicabut paksa nyawa suci
Dihempas tergoyah patah
Terpasung kaki tangan terikat
Merangkak sakit tak bertuan
Rindu akan damai dan keadilan

Setiap nyawa dan kesedihan akan diganti oleh keadilan yang akan tegak berdiri di dunia ataupun di akhirat nanti. Allah sayang kita, Allah akan selalu melindungi umatnya.

Senin, 07 Juli 2014

Jumat Subuh Waktu Itu

Kepergiannya yang begitu mendadak membuatku sangat terpukul. Ia yang selalu setia mendengarkan ceritaku kini pergi untuk selamanya. Aku ingat saat aku bercerita tentang cinta, ia juga bercerita tentang cerita lamanya dulu. Sekarang aku benar-benar ingin bercerita, aku sudah tidak kuat harus membendung air mata yang kapan saja bisa menetes deras ini sendirian. Kalau bisa aku meminta pada Allah, aku mau bertemu dengannya sekali lagi, untuk sekedar mengucap maaf dan bercerita tentang hidupku yang runyam akhir-akhir ini. Semoga kita bisa bertemu di surga Allah nantinya.

Hidup sepertinya menyembunyikan rahasia besar dariku, hidup seakan kembali membuatku tidak sama sekali nyaman. Penat ini akan terus menjadi satu dengan diriku sampai aku rasakan artinya bebas. Terbang, melayang dan merasakan dunia lepas. Katanya: Yang kita butuhkan dalam kehidupan adalah keikhlasan, syukur, sabar, senyuman, semangat, kasih sayang, cinta, ketulusan dan tanda terimakasih terhadap Allah swt karena masih diberi kesempatan untuk melihat dunia dengan segala perbedaan di dalamnya.

"Rabbanaftah bainanaa wabaina qauminna bil haqqi wa anta khairul faathihiina" 
artinya: Wahai Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan haq (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. (Q.S. Al-A'raf: 89)

Jangan berputus asa. Apa yang sudah diberi Allah memang jalan yang paling baik, kamu tidak boleh menolak, kamu harus menerima, kamu tidak boleh menuntut, tidak boleh egois, tidak boleh berprasangka buruk, kamu harus ikhlas dan sabar.

Sabtu, 28 Juni 2014

Belum Sempat Terucap

Dulu dengan muka datar dan prilaku aneh di hadapanku, dia menjadi seseorang yang berbeda ditengah kegembiraan. Kenyataan terus membawaku berjalan lurus. Menjalani kisah yang tak kunjung berujung. Awal pertemuanku dengannya, biasa saja tanpa hal yang menarik sedikitpun. Yang aku tahu dia sosok pendiam tanpa sedikitpun gurauan. Dia sosok yang membuatku risih dengan kesendiriannya. Mungkin sikapnya memiliki arti tersendiri. Aku rasa dia tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang di dunia yang luas ini. 

Aku dipertemukannya lagi dalam suasana yang berbeda, setahun waktu yang sangat singkat untuk mengubah seseorang sepertinya menjadi orang yang humoris. Semua berawal dari kicauanku, obrolan kami berlanjut di pesan singkat. Gayanya yang kini terlihat asik dan menyenangkan membuat aku penasaran, namun rasa penasaranku itu harusku pangkas habis. Dia datang bukan untuk aku, tapi untuk orang lain. Aku menjadi teman curhatnya yang paling baik dan paling mengerti. Dia selalu mengusap kepalaku jika kata-kata yang keluar dari mulutku menyadarkannya.

Semua perhatian yang dia beri mungkin selalu aku salah artikan, diam-diam aku menyimpan rasa untuk orang yang menganggapku sebagai sahabatnya. Aku selalu mengusap basah di pipiku sendiri ketika dia mulai bercerita tentang orang yang disukainya. Bagaimana bisa orang yang aku cinta malah bercerita tentang orang yang dia cinta? Setiap hari aku berusaha untuk tegar, berusaha untuk mengumpulkan potongan-potongan hatiku yang dia hancurkan tanpa sengaja. 

Bulan demi bulan aku lewati namun semakin ke sini  aku tak merasakan kehadirannya lagi. Kini tak ada lagi yang mengusap kepalaku, tak ada lagi tangan jahil yang mencubit pipiku hingga merah, tak ada lagi permen coklat ajaib yang tiba-tiba ada di tasku. Dia telah pergi bersama orang yang dia cinta. Kami jarang sekali pergi berdua bahkan mengetahui kabarnya pun lewat media social. Aku terus berusaha melupakan kebiasaanku bersamanya, yaa itu saja yang bisa aku lakukan. 

Delapan bulan tanpa kabar, sampai suatu malam aku mendapat pesan singkat, disana aku temukan pesan darinya " Besok jam empat sore aku jemput kamu" aku bersiap dengan kaos biruku, dia tepat berada di depan rumahku melambaikan tangan dan membawakanku permen coklat. 

Sore itu kita di masjid sekolah, sambil menunggu senja. Aku takut dengan suasana sekolah yang selalu menyeramkan di malam hari. Kami memutuskan untuk pergi ke masjid terdekat. Kita singgah ke warung makan untuk mengisi perut yang sedari tadi berbunyi. Dia bilang tak mau pulang, katanya tunggu aku di telpon ayah. Dia tak sama sekali bercerita tentang pacar barunya, dia malah menyodoriku seribu pertanyaan yang membuatku bingung. Aku juga belum di telpon ayah, dia mengajakku keliling dengan motor besarnya. Dia selalu memiringkan motornya ke kiri ketika aku ingin naik diatasnya. Handphoneku bergetar, telpon masuk dari ayah. Wajar saja, ini sudah setengah sebelas. Aku minta untuk di antar pulang. jalanan sudah mulai sepi, toko-toko juga mulai tutup. Sesampainya di depan rumah, yang keluar dari mulut kami adalah ucapan selamat malam dan selamat tinggal.

Tak ku sangka itu adalah kali terakhirnya. Aku tidak paham, mungkin kita sama-sama memiliki perasaan yang belum tersampaikan. Kita tetap menjadi teman curhat, tapi tak sedekat dulu.

Kamis, 26 Juni 2014

Kebetulan?

Satu tahun yang lalu...
Lelaki itu memakai tas selempang dengan list hijau. Dia singgah kekelasku, entah apa yang dilakukannya.Yang ku ingat, ketika itu dia melakukan tos bersama salah satu teman sekelasku sambil tertawa kecil. Namun yang tak ku pahami saat itu adalah saat mataku dan matanya tak sengaja bertemu, padahal jarak kita hampir dua meter. Aku memalingkan wajahku secepat mungkin, aku tak pernah tahan dengan tatapan tajam seseorang. Begitu juga dengannya yang memalingkan wajah dan bergegas pergi karena ditarik oleh perempuan berambut lurus serta bando berwarna ungu yang menghiasi kepalanya.

Banyak orang yang memanggilnya, hingga aku mengetahui namanya, nama depannya. Ternyata dia memang sangat berbeda denganku, dia cukup keren untuk menjadi sorotan disekolah; gaya, karisma dan wajahnya. Tak heran kalau banyak perempuan yang mabuk dibuatnya. Yang kutau dia sangat aktif disekolah, dia juga punya peranan khusus dalam acara-acara besar sekolah, anehnya dia tidak ikut serta dalam kegiatan osis.

Pulang sekolah, seperti biasa aku senang melihat warga sekolah berhamburan menuju pintu gerbang. Ada yang lain waktu itu, ada dia. Dia yang sibuk dengan kameranya, jepret sana-sini, mengatur barisan, hingga dirasa udah tepat. Salah satu temanku yang ada dibarisan itu menoleh keatas serta menjeritkan namaku. Aku terkejut ketika lelaki yang mengalungkan kameranya itu ikut menoleh keatas, aku hanya memberi senyum kecil dan lambaian malu pada temanku itu.

Aku selalu menjadi penghuni terakhir kelas, dikarenakan aku masih sibuk dengan les kimia atau fisikaku. Salah satu caraku untuk bisa tenang selain pergi kemasjid adalah berdiri dikoridor sendirian menutup mata merasakan wangi udara yang sangat segar, bernapas sepuas mungkin untuk menghilangkan penat. Setiap disana aku ingin berteriak kencang tapi ini sekolahan, tidak baik berteriak tak karuan. Aku membuka mataku yang tertutup rapat sambil menolehkan tubuh ke arah kanan ditambah dengan wajah kaget dan mungkin sedikit terlihat bodoh. Aku dikagetkan oleh dua orang yang selalu bersama itu. Kini mataku lebih tertarik pada perempuan yang sering bersamanya.

Dihari berikutnya. Aku menyusuri lorong-lorong gelap itu sendirian, kudapati dirinya bersama perempuan yang sama. Duduk berdua dikoridor kelas, sangat dekat, dekat sekali. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang serius, aku membaca dua raut wajah yang terlihat tegang. Aku terus berjalan lurus, sedikit melirik dan kembali melihat kedepan, seakan tak melihat apapun. Lorong terasa sunyi senyap tak bersuara, aku takut dan memutuskan untuk berjalan cepat. 

Jujur aku kagum dengannya, tidak lebih. Aku tidak pernah mencari tau tentangnya, sama sekali. Namun ocehan teman sekelasku yang katanya pernah sekelas, yang membuat aku banyak tau tentangya. Dari teman sekelasku itu juga aku tahu kalau perempuan yang sering bersamanya adalah kekasihnya. Aku tidak kaget, aku tidak hancur dan biasa saja mendengar itu semua.

Tahun ajaran baru,
Suasana yang sangat berbeda, tentunya teman-teman baru. Aku harus berpisah dengan koridor yang mempunyai besi-besi sebagai tempat pegangan, namun ada penggantinya; kelas yang nyaman untuk tidur, kelas baruku gelap dan lumayan dingin daripada kelasku yang dulu. Dari dulu aku memang tidak pernah berubah, suka tidur dikelas. Dari yang telungkup dimeja, susun kursi jadi tiga, sampai pinjem jaket temen buat jadiin alas tidur atau bantal. Pulang-pulang baju lecek semua. Hidupku memang berantakan dari dulu tapi aku bertekat untuk berubah, tapi tidak untuk tidur dikelas.

Tak disangka aku satu kelas dengan lelaki itu. Setelah bersama dalam satu ruang kelas dengan waktu yang cukup lama, aku mengetahui sifat aslinya. Dia sangat-sangat menyebalkan. Aku mengakui dia pintar, cerdas dan akif. Tak jarang buku PR miliknya banyak dipinjem temen-temen. Beda jauh denganku yang lemah gemulai mencari posisi paling nyaman untuk tidur. Dan ditahun yang baru ini aku mulai jarang melihatnya bersama perempuan itu lagi.

Karena dua hal, kita mempunyai selera musik yang sama dan belajar bareng. Awalnya kita cuma temenan, dia juga yang duluan mengirimiku pesan. Dari situ lempar kabar kita terus berlanjut, aku jadi punya presepsi lain tentang sifatnya yang menyebalkan tadi. Dia orang yang sangat-sangat baik dan asik, kalau kita tau alur hidupnya.

Kebetulan ini seperti sudah diatur, kita bertemu lagi. Menjadi teman yang sangat dekat, dengan status lajangmu.

Selasa, 24 Juni 2014

Senyum Terakhirmu

25 April 2014, aku seolah menjadi perempuan paling beruntung malam itu.

Aku datang ketika acara hampir dimulai. Celingukan mencari seseorang itu, mungkin dia sudah masuk duluan. Aku berusaha mencari teman-temanku tapi mata minus ini tak bekerja dengan baik tanpa bantuan alat, dengan mata yang disipitkan aku terus berjalan lurus mencari tempat duduk yang kosong, tiba-tiba ada yang memanggilku. Dua orang temanku itu berniat membagi kursinya denganku, aku bersyukur mereka mau berbagi kursinya. Aku mengenakan jilbab berwarna hijau malam itu, tanpa sengaja aku memilihnya. Aku gelisah toleh sana-sini sepanjang acara, mencarinya yang sedari awal tak kutemui, aku malu mengiriminya pesan untuk sekedar menanyakan "kamu dimana" aku tau itu bukan porsiku. Malam itu aku benar-benar ingin melihat wajahnya, ada rindu yang teramat dahsyat, entah pertanda apa. Aku ingin meminta maaf karena sehari sebelum pelepasan aku seperti tak suka mendengar dia meminta izin untuk pergi ke acara pelepasan bersama orang lain. Dari tahun ketahun yang ku tunggu adalah pemutaran vidio, aku tidak berharap vidioku bisa ditampilkan, tapi aku berharap untuk vidionya. Seperti keinginannya, aku juga selalu berdoa untuk vidio miliknya. Dan sekali lagi dia membuatku berdecak kagum serta berteriak sambil bernyanyi sekencang mungkin. Alhamdulillah, Allah maha baik. Vidionya terpilih, aku tau dia hebat. Aku ikut senang. 

Setelah akhir acara, aku tetap duduk ditempat itu, menyibukkan diri dengan handphone kosong, sesekali membuka sms dan line, namun tak ada namanya disana. Tak berapa lama dia datang dan duduk tepat disebelahku, dia menyapaku seperti biasa; dengan lembut dan tenang. Aku menatapnya dalam diam, entah apa yang harus ku ucap, aku benar-benar senang dan bangga. Aku berbisik kepadanya untuk mengucapkan selamat serta membawa punggung tangannya mendarat dikeningku. Ini kedua kalinya dia membuatku menangis kesenangan.

Kita diminta segera meninggalkan ballroom. Kita keluar sama-sama menuju tempat foto, dia mengajakku foto. Dia baik, dengan sabar menungguku yang asik berfoto bersama teman-temanku, maaf telah membuatmu menunggu. Ada satu foto polaroidnya yang masih kusimpan rapi sampai hari ini, apa dia masih menyimpan foto polaroidku juga? Udah larut malam, dia menyuruhku untuk segera minta dijemput. Dia mengajakku untuk menunggu di lobby, aku kira dia akan membiarkanku sendirian. Dia yang tadinya berjalan agak sedikit didepanku kini ada disampingku setelah melihatku yang susah berjalan karena tidak terbiasa menggunakan hak tinggi. Kita duduk di lobby bersama sepasang teman kami, yang seperti biasa melempar senyum jail setiap melihat kami berdua. Dia terlihat sedikit agak bosan menungguku dijemput, aku terus memanggil-manggil namanya sambil tertawa agar suasana menjadi lebih bersahabat, dia bilang "Apaa.." matanya mulai menyipit dan memerah karena mengantuk, dia lucu, aku tak ingin melepas senyumnya malam itu namun tak berapa lama aku dijemput. Dia melempar senyumnya untuk yang terakhir kalinya malam itu dengan layu.Tapi itu senyuman paling indah yang pernah ku dapat darinya.

Aku rindu, sungguh.

Sabtu, 21 Juni 2014

Sajak Kecil Untuk Dunia

Kami duguncangkan dunia yang ditutup kabut berselimut mimpi
Kami dibatasi oleh mimpi yang seakan nyata untuk dihuni
Namun terasa sunyi ketika ditinggali
Bayangan yang seakan nyata menjelma merasuki sukma buatan
Mereka hadir bagai mimpi buruk bagi penghuninya
Mereka nampak tapi palsu dengan suara keadilan semu
Menggambarkan kepalsuan yang selalu berulang
Jalan saja sampai lelah, mengitari jagat yang sesak dengan kemunafikan
Membengang lebar mulutku ini melihat keadaan yang berbalik tak karuan
Mereka tembok besar penghalang jiwaku
Aku mau bebas tapi tak mampu
Duniaku hanya terlihat baru dan nyata
Dibaliknya hanya ada lelucon konyol tak bersuara
Meniti waktu samadengan menyudahi perbudakan
Selimut pembawa mimpi kembali datang dengan hal yang baru
Rakyatnya ditipu oleh pembaruan yang terbelenggu
Kepercayaannya dianggap jelaga semata
Yang disebut baru hanyalah buaian para pencuri
Aku ditipu oleh penyuara ulung pengemban nasib
Nasibku diputar balik dan digantung tinggi-tinggi
Lalu dihempas dan dibuang setelah membubung tinggi
Jiwaku seperti ditusuk ribuan duri
Apalah arti ranting yang terikat
Diatas ketidakberdayaan tubuh yang tergoyah
Berkoar-koar dalam lorong sempit berpenghuni
Menjanjikan penghapusan pada kemiskinan
Ahli politisi menghambur semesta
Hadir dengan langkah tegap beserta setelan rapi
Mengumbar janji pada sang pemimpi
Tersungkur malu aku pada kenyataan
Terbahak keras aku pada keadaan
Melihat permainan baru sang penguasa
Terbaring lesu dikeheningan
Terlihat wajah-wajah murung tak berkawan
Tergeletak lemas atas ketidakberdayaan
Yang telah acuh pada nasib yang di beri
Kehampaan ini terus menarikku dalam kegelapan
Semua terasa rusuh dan bingar
Selamat tinggal untuk keadilan yang merunduk malu
Terkuaklah pemilik kepalsuan
Pijakanku menjadi satu-satunya saksi
Dimana maling dunia menemui bui

Jumat, 20 Juni 2014

Rindu.

Pagi ini hujan, 
Aku merindukan baunya, merindukan seseorang didalam hujan; kamu. Kapan kita bisa melihat hujan bersama lagi? Melihat setiap titiknya yang jatuh berhamburan basahi lapangan sekolah. Kamu tau? Sekarang aku berubah menjadi pemurung yang gampang marah, uring-uringan, malas belajar, malas mandi, malas makan, malas segalanya. Kepergianmu dua bulan lalu penuh dengan tanda tanya membuat hidupku berantakan. Setiap hari aku selalu mencari alasan untuk tetap bisa tertawa, padahal aku tau semua itu cuma menghiburku sesaat dan ketika malam menjemput aku kembali menangis.

Aku benar-benar merindukanmu,
Merindukan senyuman, tawa, canda, gurauan, keisengan, kejailan dan lainnya. Aku merindukan keluguan kita menari-nari di atas dunia yang luas ini. Aku merindukan pesan singkatmu, setiap malam aku selalu berusaha tegar dan terbiasa tanpa sapaan jailmu. Ngomong-ngomong aku masih ingat benar wangimu, wangi jaketmu. Kamu benar-benar membuatku mabuk, aku terlalu mengharap banyak padahal disisi lain tak ada sedikitpun rasa untukku, tapi apa maksud perhatian dan kedekatan kita selama ini? Ottakku hampir rusak terlalu sering memikirkan kepergianmu ini. Aku tak ingin kamu pergi, sungguh. Bisakah kamu kembali? Disini aku terus menunggu Allah membawamu kembali.

Cepat kembali

Rabu, 18 Juni 2014

I'm Back

Assalamualaikum. Hallo aku Arin, kangen banget bisa nulis disini lagi, setelah berjuta tahun ninggalin blog akhirnya aku memutuskan untuk balik lagi. Oke kali ini aku gak boleh tutup-tutup blog lagi. Mari berkarya bersama. Wassalamualaikum.