Terpencil berkawankan belukar, katanya
Pada rindu yang kutitipkan untuk aliran sungai mahakam
Sajak ini ku buat agar mereka mengerti
Pada hidup yang kau anggap modern
Tak ingatkah telah kau titipkan jantungmu disini
Pada penebang singgahan air hujan
Tak ingatkah telah kau belah hidupmu sendiri
Pada hama perusak kesuburan
Sambutlah tarian hudoq ini
Pada orang utan yang hangus dibakar
Beri tanganmu akan kutuntun menuju rumah
Pada pesut yang sudah tak muncul lagi
Abadilah menjadi patung ditepian
Pada roncean gelang berwarna-warni
Cantikmu melebihi segenggam emas
Pada tulisan batik yang kau anggap layu
Sampaikanlah ini yang paling segar
Pada sinar matahari yang masih sempurna
Biarlah mereka mengejekku hitam dan gosong
Pada lidah yang kau kata kuno
Seruput saja si ajaib air mahakam
Pada kau yang lupa pada sebutir nasi
Lahaplah semangkuk soto banjar yang dahsyat
Pada kau pecinta kue bertingkat lima
Cobalah wadai beribu rasa
Salam rinduku pada tanah Kalimantan
Katakan aku ingin segera pulang
Menikmati nyamannya angin yang berhembus pelan