Lagi-lagi aku tersesat dalam perasaan, akal
menjadi lumpuh dan seketika tidak mampu mengendalikan hati yang terkadang
berlebihan mengambil tempat dalam diriku. Kamu terlalu kejam meninggalkan hujan
dengan berlari, kamu juga terlalu kejam menginginkan hujan ketika ia tidak
ingin bertemu.
Rabu, 26 Desember 2018
Kamis, 12 April 2018
Katanya Aku Berkulit Hitam
Aku masih ingat dan
sangat ingat sekali, kamu menyebutkan beberapa kekuranganku tanpa takut jika
suatu saat nanti akan ada dimana masa berputar. Kamu tidak pernah peduli
seberapa seringnya menghancurkan tembok yang kubuat dengan gagahnya, kamu tidak
pernah peduli bagaimana proses diriku berubah sedikit demi sedikit dan kamu
tidak pernah peduli bahwa aku muak dengan tuntutan-tuntutan yang kamu
buat.
"Item banget
sih"
“Tem… Item”
"Dekil"
“Buluk”
“Jerawatan”
“Style kamu jelek”
Kamu memanggilku
dengan panggilan yang benar-benar aku benci, sangat aku benci.
Hal yang tidak pernah
kamu ketahui bahwa aku selalu berusaha tampil cantik dengan definisi yang kamu
sebutkan. Aku selalu memandangi orang-orang yang memiliki kulit yang ‘katanya’
lebih indah dariku, aku selalu membandingkan wajahku dan wajah
perempuan-perempuan cantik dengan standar idealmu, bahkan aku malu dengan warna
kulitku, aku malu dengan wajahku yang berjerawat, aku sedih ketika mulutmu
tidak berhenti memanggilku dengan sebutan dekil dan buluk. Aku berubah.. aku
bukan aku yang bangga dengan apa adanya diriku.
Setiap hari aku
selalu berdiri di depan lemari, sibuk memikirkan ingin memakai baju apa,
memadukan warna dan aku terus bertanya-tanya “Aduh.. pake baju apa
lagi sekarang? Aduh.. masa pake baju ini lagi sih? Gak ada baju yang bagus deh!
Cocok gak sih
pake baju ini? Warnanya nyambung gak sih? Norak gak sih? Kampungan gak sih?”
Aku juga benci jika
harus berjalan kaki, menatap orang baru, menyapa orang yang mungkin ku kenal,
terkadang aku berpura-pura tidak melihat agar tidak ada yang mengomentariku.
Jalanku menunduk, memilih membuka kacamata dan terkadang menggunakan masker
ketika ingin pergi. Aku seperti tidak memiliki kekuatan untuk menampilkan
wajahku. Aku seperti tidak mengenali diriku.
Aku menyadari.. aku
kembali menjadi kecil, aku kembali menjadi perempuan yang tidak memiliki kepercayaan
diri. Kamu menjadikan kata lebih perih dari pada luka berdarah. Hal lain yang
perlu kamu ketahui, aku tidak akan
pernah bisa menjadi perempuan ideal versi umat manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)