Sama seperti yang kamu minta, hujan.
Sepeti merindukan hujan, saya juga rindu jadi orang yang selalu duduk dibelakangmu, bergabung bersama teman-teman yang lain untuk menjadi sekelompok orang jail yang tiba-tiba membuatmu tertawa diam-diam. Saya tau kamu malu-malu, coba sekarang kamu senyum lagi untuk saya.
Bayangkan hujan waktu itu, disana, ditempat itu dan rasakan. Kamu bisa rasakan wanginya? Kamu bisa rasakan dinginnya? Kamu bisa rasakan suaranya? Ada siapa disana?
Kapan kamu datang, hujan. Mungkin ini seperti aku tanpa segalanya, tentu ini membuat saya sangat merindu; merindukan awan gelap, merindukan suara gemuruh diatas langit, merindukan titik pertamanya, merindukan wangi tanahnya, merindukan beceknya, merindukan air dimana-mana, merindukan langkah seribu kaki-kaki manusia.
Kapan kita bisa lari bersama hujan? Kita belum pernah coba sama-sama kan?
Hujan tidak meminta pelangi untuk datang, dan tidak meminta pelangi untuk pergi. Jadi kamu pilih yang mana? Datang untuk pergi? Atau datang dan tidak akan pernah pergi?
Saya tahu. Ada kamu, hujan.