Minggu, 13 September 2020

Sepotong Brownies ft Nia Ariyani

Hai, apa kabar?

Sudah lama rasanya gak denger kabarmu

Apa kamu masih semanis yang pernah kamu ceritakan dulu?


Aneh rasanya perkenalan kita begitu singkat, tapi kamu sebegitu membekasnya di otakku. Padahal ketemu langsung pun enggak pernah. 


Aku nyesel gak mengiyakan ajakan kamu buat ketemu.

Nyesel gak nyoba untuk percaya sama kamu.

Nyesel juga karna gak ngasi waktu untuk “kita”.


Entah apa yang membuat kita sama-sama memutuskan untuk mencari jalan yang berbeda.. dan sekali lagi aku ucapin selamat tinggal, walaupun dulu kita pernah sama-sama pamit untuk pergi.


Buat kamu, 

Aku harap kamu mengingat aku, sama seperti aku mengingatmu ketika melihat sepotong brownies.

Terkubur Kerinduan

Silakan kau patahkam berulang kali sampai aku lupa rasanya patah

Silakan datang dan pergi berulang kali sampai aku sadar kalau kau hanya figuran dari paragraf ini


Silakan kau masukkan tokoh lain dalam paragraf yang katanya milik kita.. sampai aku menyadari bahwa kau bukanlah tokoh utama dalam paragraf ini


Silakan lakukan semaumu.. sampai kamu menyadari bahwa ada yang lelah hatinya untuk berjalan di alur yang kau buat menjadi rumit 


Aku berhenti disini.. 


Dan biarlah aku menjelma menjadi rindu, agar kau rasakan sesaknya terkubur kerinduan


Diantara 8760 Hari

Aku adalah nahkoda yang kau ajarkan melayar di laut lepas, kau selalu bilang pasti akan ada banyak ombak yang lebih besar di tengah sana


Aku adalah keluh yang kau seka dengan hadirmu

Aku adalah kekacauan yang perlahan kau sirnakan dengan pengertian

Aku adalah aku dengan kamu yang membersamai

Berkali aku tersesat, berkali juga kau temukan

Kau selalu berhasil menangkap radar yang aku pancarkan


Perlahan aku mulai merangkak untuk menemukan diriku yang utuh

Meninggalkan rasa sakit dan pedih yang terlampau kejam menghujam hatiku


Untuk kamu yang saat ini yang suaranya hanya bisa kudengar dibalik telepon

Terimakasih ya.. sudah hadir diantara kurang lebih 8760 hari milikku

Semoga kamu bahagia selalu..

Jumat, 24 Juli 2020

Lakukan Semaumu

Kau adalah orang yang tidak pernah aku harapkan untuk datang. Kedatanganmu beberapa tahun silam sama sekali tidak pernah aku inginkan. Kau datang tanpa permisi dan saat kau mencoba untuk diam-diam pergi, akan kulepaskan tanpa pernah aku sesali. 

Silakan kau patahkan sampai mati rasa, silakan kau hancurkan sampai kau sadar arti sebuah ketulusan. Silakan lakukan semaumu. Mulai saat ini paragrafku akan lebih berdarah daripada hati yang pernah kau cabik berkali-kali. 

Senin, 20 Juli 2020

Mengerti Hujan

Setiap hujan mengajarkan aku agar tetap kuat walau telah jatuh berkali-kali, setiap rintiknya yang jatuh menjadi pengingat bahwa tidak apa-apa jika jatuh berulang kali, setiap suara yang dihasilkan akan menjadi teman berbicara ketika aku mulai merasa sendiri dan aku akan tetap bersama hujan walau terkadang banyak umpatan ketika ia sedang bertemu bumi.

11 Desember 2012

Aku-Hujan

Aku bukan hujan dan hujan bukan aku
Gak perlu khawatir setiap hujan turun
Gak perlu inget aku waktu hujan turun
Biar hujan menjadi hujan
Aku menjadi aku
Gak selamanya hujan
dan gak selamanya aku kok 
Udah.. biarin aja :)

15 Juli 2020

Minggu, 19 Juli 2020

Dear Ahlul Fikri

Kebenaran gak butuh pembenaran, kebenaran gak butuh dibela, kebenaran akan menemukan jalannya (kurang lebihnya seperti ini). 

Dear sahabat aku, Ahlul Fikri yang entah dimana dan entah dia menganggap aku sahabatnya atau bukan. Terimakasih sudah pernah ngasi pengertian soal kata-kata ini ke aku. 

Rabu, 15 Juli 2020

Sepasang

Segala sesuatu bukan hanya soal senang tapi juga soal sedih. Bukan hanya soal pertemuan tapi juga soal perpisahan. Bukan hanya soal kedatangan tapi juga soal kepergian. Bukan hanya soal dilepaskan tapi juga soal melepaskan. Bukan hanya soal ditinggalkan tapi juga soal meninggalkan. Bukan hanya soal jatuh cinta tapi juga soal patah hati.. 

Sudah Selesai

Udah.. lupain aja kalau kita pernah sedekat itu. Lupain aja, kayak dulu kamu lupain aku dan pergi sama orang lain. gampang bukan? Kayaknya kita juga gak perlu-perlu banget untuk saling berkabar kan? Bukankah "yaudah aja" gitu kalau gak tau kabar aku? Sudah.. Rasanya memang sudah gak ada lagi yang perlu dijelaskan. Kita sudah selesai.

15 Mei 2015

Jendela-Jendela Kamar

Aku masih seorang mahasiswi, namun dengan rutinitasku yang baru. Biasanya ketika jam tujuh tepat aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Namun, di semester akhir ini aku masih berada di dalam kamar, sibuk dengan berbolak balik arah untuk mengatur posisi yang paling enak untuk tidur kembali, sesekali aku menarik selimut agar tetap nyaman berada dibawahnya. Aku akan keluar kamar ketika matahari mulai menjadi hangat, tujuanku hanya satu yaitu membeli sarapan yang ku gabung dengan makan siangku.

Jam tujuh pagi yang berbeda, pandanganku bukan lagi dosen yang memberikan materi ataupun teman-teman yang sedang presentasi di depan kelas, namun jendela-jendela kamar yang tadinya terang perlahan menjadi redup karena senja telah menjemput.

20 Desember 2018

Untuk Bapak

Untuk bapak yang tidak bisa kurangkul karna kepergiannya beberapa tahun lalu, yang membedakan hari ini dan kemarin adalah keberadaanmu yang tidak dapat kulihat. Kau menjadi sosok yang paling romantis ketika jenuh mulai menghujam diriku. Aku rindu, aku benar-benar rindu, Bapak. Aku kehilangan, aku benar-benar kehilangam, Bapak.
 
14 Juni 2018, sepenggal tulisan ini aku persembahkan untuk seorang teman yang kehilangan Bapaknya. Malam itu dia menemuiku, kupandangi wajahnya, kuperhatikan setiap gerakannya, aku tahu dia habis menangis hebat sebelum bertemu denganku, dia hanya menundukkan pandangan dan tidak ingin memperlihatkan bahwa dia sedang benar-benar kehilangan. Tidak apa-apa menangis, tidak apa-apa untuk menjadi sedih.

Jejak Sajak Mahasiswa Pasif

Ditengah kerumunan para pendemo
Sajakku berirama merdu
Kurang dari enam puluh menit
Kudengar riuh gaduh para mendemo
Ada yang bisu tapi mengelak
Tetap pada diam yang luka

Inilah sajakku untuk pembelaan
Setitik goresan pada pena yang sering kau anggap kuno
Satu, dua tiga kau ambil paksa
Tanah, laut, sumber makanan, tarian
Bahkan tanpa rasa malu

Bukan dengan suara lantang dibalik pengeras
Juga bukan dengan kekerasan psikis di media sosial
Sajak berdarah ini dari mahasiswa pasif
Saya serahkan pada para pencuri

28 Januari 2017

Dibalik Tirai 83

Merahnya api menyala
Desiran ombak yang menghempas batu besar ditengahnya
Batu cadas yang terkalahkan oleh tangan-tangan kekarmu
Ketukan palu dengan tangan yang kuat
Serta daun kering yang mulai meninggalkan tempatnya
Kulihat badan-badab terkapar lemas namun tetap dengan senyum kehangatan
Derai-derai langkah kaki ksatria di bumi tercinta
Menggoreskan arti pengorbanan
Menghempas karang di lautan
Melenyapkan kuka yang seakan bergulir dengan waktu
Kembali bersahabat dengan kesabaran
Teruntukmu, pemuda pemudi perkasaku


(Puisi ini dibacakan saat penutupan KKN 83 2018 Universitas Muhammadiyah Malang di desa Tulungrejo, Donomulyo, Malang. Puisi ini diciptakan oleh Arin, Refsi, dan Hetty)

Lekas Menjadi Sembuh

Sekarang rasanya ribuan kata-kata itu sedang terbang-terbang di dalam otakku, mereka seperti menunggu antrian untuk dirangkai menjadi sebuah paragraf. Aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memilah satu persatu, tapi makin lama aku makin bingung. Kutulis, kuhapus, kutulis lagi dan kuhapus lagi. Rasanya aku masih tidak mampu merangkai kata menjadi sebuah paragraf untuk menterjemahkan keadaan saat ini.

Dari hati yang terdalam, aku minta maaf. Bumi, dunia.. menangislah, kalau itu dapat membuatmu menjadi sembuh, menangislah kalau itu dapat membuat aku tersadar kalau kamu telah terlampau baik menampung aku dipelukanmu.

Hujan

Kenapa?
Kenapa sekarang kamu jadi takut waktu hujan turun?
Padahal dulu kita sering main hujan-hujanan
Padahal dulu kita paling seneng kalau hujan turun
Ketawa bareng, basah bareng, seneng bareng

Kalau nanti kamu ketemu hujan
Perhatikan deh
Dia cantik, dia meyenangkan, dia menenangkan
Kamu gak lupa kan?
Udah ya..jangan takut sama hujan
Karna gak selamanya hujan kok :)

Selasa, 07 Juli 2020

Menerka

Biarin aja pertanyaan-pertanyaan ini tetap menjadi sebuah pertanyaan. Biarin aja pertanyaan ini kehilangan jawabannya, biarin aja selamanya kita terus menerka-nerka. Karna aku yakin kita gak sejahat itu dalam menilai satu sama lain

Kita sama-sama harus menghentikan segala pertanyaan. Kamu udah gak perlu nanyain kabar aku lagi, aku baik-baik aja, aku pun juga tahu kalau kamu pasti baik-baik aja disana. 

Kita udah selesai, hubungan ini gak bekerja untuk kita, bukan salah kamu dan bukan juga salah aku, tapi karna kita memang gak ditakdirkan untuk menjadi sepasang.

Minggu, 21 Juni 2020

Usai

Berulang kali ngucapin selamat tinggal
Tapi nyatanya kita gak benar-benar pergi
Berulang kali juga ngucapin selamat datang
Tapi nyatanya kita gak benar-benar menetap

Saling merayakan pertemuan
Dan juga saling merayakan kepergian
Saling menghadiahi kebahagiaan
Dan gak jarang menghadiahi kesedihan

Menjadi sejauh jarak dan selama waktu
Ngerasa sangat kenal tapi gak benar-benar kenal
Saling sembunyi tapi pengen ditemukan
Saling nyari tapi pura-pura gak peduli

Kita adalah paragraf yg dari awal semestinya gak usah di tulis
Harusnya kita gak pernah maksain diri untuk jadi tokoh di dalam alur yang sama

Gak ada yg harus bersusah payah untuk menghapus setiap paragrafnya
Udah.. biarin aja.. 

Sabtu, 11 Januari 2020

Berduka

Aku sedang berduka.. duka oleh kata yang tidak kunjung menjelma menjadi sebuah cerita, duka oleh rindu yang seakan menjerat, duka oleh dunia yang semakin rumit dan duka oleh kekejaman masa lampau

Turut berduka. Turut berduka atas sedih hatinya, turut berduka atas hancur perasaannya dan turut berduka atas duka yang telah ada.