Aku hanya memiliki waktu 1-4 jam untuk berbicara dengannya; sebentar, sangat sebentar. Banyak sekali kata yang ingin kuselipkan disebuah paragraf di dalam obrolanku dengannya, bahkan kata yang terkadang kuselipkan hanyalah sepersekian persen dari keseluruhan kosakata yang aku miliki, namun sembari dikawani siang dan malam aku semakin sadar dan sadar lagi, yang kuselipkan adalah keluhan yang sebenarnya membenankannya, aku paham seharusnya perempuan bisa dijadikan pijakan, namun aku belum mampu.
Rasanya aku ingin mengedit setiap paragraf yang telah dibacanya, bukan hanya sekedar membuat hatiku tersenyum, tapi hal yang lebih penting lagi adalah membuatnya tidak memikirkan pilihan lain, sayangnya aku terlalu naif untuk mampu membaca dengan benar seluruh paragrafnya, sekali dua kali bahkan berkali kali aku mengulangnya. Aku merasa menjadi paragraf yang paling buruk dicerita ini.
"If tomorrow never comes, remember the way i call you.."