Kamis, 15 Desember 2016

Kata Terakhir Kalimat Pertama

Kamu sudah mati, kamu sudah benar-benar mati.

Sudah satu tahun tepat, sejak pertemuan pertama kita. Pertama maaf sudah menjadi perempuan yang suka mengeluh, merengek dan terus merengek karena perlakuanmu yang seharusnya aku terima tanpa spasi karena atau tetapi.

Dua pasang bola mata yang (kembali) hadir menyapaku malam itu. Sifatmu yang kembali berubah menjadi tidak seperti yang aku kenal. Kamu lupa sumpahmu mengatasnamakan Tuhan, kamu lupa sudah ratusan kali membuat hatiku yang utuh kembali berkeping-keping, kamu benar-benar lupa akan aku.

Kamu lepaskan jaket maroon milikku, melipatnya menjadi dua dan menaruhnya dipangkuanku. Sebelumnya kau juga meminta sweeter milikmu yang terlanjur menjadi favoriteku. Kamu tahu perasaan ku saat itu bagai kapas lembut yang membeku, sulit untuk mendeskripsikannya. Bahkan hatiku otomatis berkata "dia mau pergi lagi".

Kamu tidak pernah tahu bagaimana cara kerja otakku yang selalu berusaha merasionalkan perlakuan-perlakuan curangmu. Sungguh sangat berat, sangat teramat berat. Aku yakin, kau tidak akan sanggup untuk melakukannya.

Kau menjadi seseorang yang otoriter dan aku menjadi penurut yang takut akan bentakan.
Aku kehilangan banyak dan mencoba mengais kembali sekiranya masih ada yang tersisa. Semakin mengais semakin hilang. Dan hasilnya apa?

Boleh aku ajarkan cara pergi yang sebenarnya? 

Kata terakhir kalimat pertama.