Selasa, 18 November 2014

Waktu (dulu) Semu

Waktu itu, masa yang sudah tidak akan bisa diputar kembali. Kami adalah dua orang yang rumit, bahasapun tidak akan bisa mengartikan kedekatan kami waktu itu. Kami menjalani hubungan dengan komitmen yang sangat kuat, kami terus bersama tanpa harus ada yang namanya status.

Sosok yang sampai saat ini saya kagumi itu kini mulai menjadi semu, tidak seperti dulu yang senang sekali membuat saya tersanjung dan terus tersenyum. Ketika saya sudah tidak bisa memintanya tetap tinggal dan harus rela bahwa semunya tidak lagi dapat diteruskan adalah hal yang paling berat, apalagi ketika harus memilih untuk diam dan legowo. Bagaimana saya harus menerima takdir dunia? Bagaimana cara saya menerima kenyataan ketika orang yang pertama kali memulai menggoreskan penanya dikertas putih milik saya harus berhenti bekerja.

...

Otakku tidak pernah berhenti memikirkan kegilaan yang pernah kami lakukan bersama dulu. Kegilaan-kegilaan yang membuatku merasa begitu beruntung itu telah menjadi tumpukan kertas kumal yang memenuhi ruang-ruang kosong. Kegilaan itu sudah ku susun rapi dikotak kecil berwarna hijau, aku tak berani melihatnya. Aku takut, aku takut pipi ini dipenuhi air mata lagi.

Dia menjadi satu-satunya orang yang paling sabar mengetuk pintu kamarku ketika aku mulai gerah dengan kehidupan, dengan sabar memberi petuah-petuah menyejukkan. Saya rindu sama kamu, saya rindu hujan kita, hujan dan jalanan milik kita. Disini sekarang sudah tidak ada lagi yang seperti kamu; penyuka wangi hujan. Tidak ada yang menemaniku menikmati suara hujan, saya kangen kamu. Kamu masih disini kan? Kamu dengar saya? Sekarang lagi hujan, suara petir itu menakutiku, aku rindu saat kamu menutup telingaku dengan sebelah tanganmu, aku rindu ketika kamu diomeli mamamu karena membiarkan tubuh mungilku ini dibasahi oleh air hujan, aku rindu masa sekolah kita, aku rindu naik angkot, aku rindu jalan kaki, aku rindu dibonceng, aku rindu ditilang polisi, aku rindu diajari matematika, aku rindu melihat matamu yang coklat. Aku rindu sama-sama.

Kamu pergi gak bilang-bilang, aku marah. 

Raganya sudah tiada, tertiup angin mungkin atau terbawa badai dilaut. Kehadirannya masih disini, dia melindungiku dengan kesemuan yang dimilikinya sekarang. Lihat, hujan-hujan itu menyebut namamu kencang sekali, dia ingin mengembalikan jasadmu untukku, untuk bercanda gurau dengan tetesan miliknya lagi, hujan kangen suara keras mu menyebut nama kita; namaku dan namamu. Kamu tau, hujan kangen. 

Kematiannya tiga tahun yang lalu membuatku benar-benar kehilangan akal, separuh dari hidupku seakan pergi menjauh, Aku boleh kangen turus dong? Aku kangen kamu. Kamu baik-baik ya disana. Aku tidak jadi marah. 

Saya percaya, Tuhan telah mempertemukan kita dengan tujuan yang baik, begitu pula ketika kita harus dipisahkan.

Minggu, 16 November 2014

Bidak Catur, Sangkar dan Kebebasan.

Aku tak tau.. Hidup ini seperti bidak catur, dimana orang didalamnya harus mengikuti aturan yang tak akan pernah bisa ditolak, pindahan-pindahan anak catur ini seperti gerakan tubuh yang dipaksa untuk melangkah, aku seakan bergerak mengikuti alur takdir yang tak pernah disetujui, dunia seperti permainan yang kejam dan tak adil dimana aku terus berada didalam putih-hitam bidak catur; diatur, dipindah, dihambur, terbuang, diatur kembali dan begitu seterusnya.

Mengelak pun tak mampu, aku terus berputar dalam bidak catur yang sama sekali tak kupahami, aku terus berada dalam kepura-puraan. Menampilkan senyum palsu, merasakan luka basah yang tidak akan pernah kering, sendirian.. 

Ini seperti cerita yang kau buat untukku; burung dalam sangkar. Seperti papan catur juga, aku tak bisa bebas dari aturan yang selalu mengikat kuat. 

Kau bilang akan membebaskanku dari sangkar yang menahun menjebak tubuh kecilku ini, belum sempat kau mengajariku bebas, kau malah sibuk membebaskan manusia lain, kemana kau pemilik janji? Kau tak peduli pada akhir cerita yang telah kau tulis sendiri, bahkan kau telah memulai cerita baru dengan yang lain. Kenapa kau harus memulai membuat cerita untukku kalau tak sampai pada kebebasan yang sesungguhnya, cerita ini membuatku terikat dalam sangkar yang didalamnya berisi bidak catur.

Arin&Ado
rachmadadityawarman.blogspot.com

Sabtu, 01 November 2014

Kacang.

Dia mulai bermain api, dia mulai dekat lagi dengan perempuan yang ada dimasa lalunya, aku tak ingin menjadi bensin yang menyulut besarnya api, aku terus berusaha untuk pura-pura tidak tahu, pura-pura mengelak semuanya, aku terus menganggap semuanya baik-baik saja. Aku percaya, aku percaya lelaki penyuka kacang itu.

Hujan dahsyat pagi itu, aku memaksakan diri untuk tetap pulang, aku mau air mataku jatuh bersama hujan-hujan itu, aku tak mau memperlihatkan kesedihanku, aku tak mau terkesan cengeng lagi dihadapannya. "Aku pulang duluan ya" ujarku meminta izin, dia cuma tersenyum kecut memperlihatkan muka masam. Aku melambaikan tangan dan terus tersenyum, hati ini mungkin sudah kebal atas sayatan, mungkin hati ini cocok untuk dijadikan teduhan sementara. 

Kelas sudah selesai, mendung dan gelap, matahari mungkin lelah bersinar bulan ini. Gerimis datang, gara-gara hujan kemarin aku sedikit flu, teman-temanku tak memperbolehkanku bermain-main dengan hujan lagi. Aku mulai bosan menunggu hujan, salah satu teman sekelasku meminta aku untuk menemaninya ke kamar kecil, aku duduk disebuah bangku kecil, kicauan manusia terdengar jelas, sedang ada yang asik berdua didalam kelas, air mata ini meluber kemana-mana rupanya mataku tak tahan menampung jutaan air mata, temanku kaget melihat aku seperti ini, dia membawaku kekelas untuk bertemu dengan teman-temanku yang lain, mereka dengan sabar menghiburku untuk menjadikanku kuat kembali, aku tau kuat itu hanya bertahan sementara.

Ternyata benar, aku tak kuat menahan pukulan keras itu, aku menangis semalaman, entah aku manusia jenis apa, yang bisanya menangis dan terus menyalahkan diri sendiri. Pagi-pagi pintu kamarku dibuka kencang oleh ibu, sambil berkata "kenapa? Ditinggal pergi? Semuanya tidak harus kamu miliki, setiap orang punya rasanya sendiri, setiap orang punyak hak untuk datang dan pergi" aku hanya diam, menarik selimut untuk menutupi mata yang bengkak ini.

Satu minggu yang lama, aku cukup puas terbaring lemas ditempat tidur, mencium bau obat-obatan serta tusukan jarum dimana-mana. Ini hari baru, aku tak mau dikalahkan oleh penyakit, sekarang aku harus memulai hari dengan semangat yang lebih besar, manampilkan wajah yang paling bahagia untuk semua orang, memperlihatkan senyum yang paling ikhlas untuk semua orang sama seperti sebelum kedatangannya. Dia datang lagi, dia menghampiriku mungkin ingin memperjelas semuanya, dia hanya duduk diam dibelakangku, tak berbicara apa-apa, yang aku baca dari raut wajahnya hanya bingung dan tidak tega melihat mataku yang mulai memerah, disana hanya ada aku dan dia, dia pergi dan berkata "nanti kita ketemu lagi, aku mau jelasin semuanya" 

Mungkin ini kejutan terhebat dari orang yang paling aku percaya.