Sabtu, 01 November 2014

Kacang.

Dia mulai bermain api, dia mulai dekat lagi dengan perempuan yang ada dimasa lalunya, aku tak ingin menjadi bensin yang menyulut besarnya api, aku terus berusaha untuk pura-pura tidak tahu, pura-pura mengelak semuanya, aku terus menganggap semuanya baik-baik saja. Aku percaya, aku percaya lelaki penyuka kacang itu.

Hujan dahsyat pagi itu, aku memaksakan diri untuk tetap pulang, aku mau air mataku jatuh bersama hujan-hujan itu, aku tak mau memperlihatkan kesedihanku, aku tak mau terkesan cengeng lagi dihadapannya. "Aku pulang duluan ya" ujarku meminta izin, dia cuma tersenyum kecut memperlihatkan muka masam. Aku melambaikan tangan dan terus tersenyum, hati ini mungkin sudah kebal atas sayatan, mungkin hati ini cocok untuk dijadikan teduhan sementara. 

Kelas sudah selesai, mendung dan gelap, matahari mungkin lelah bersinar bulan ini. Gerimis datang, gara-gara hujan kemarin aku sedikit flu, teman-temanku tak memperbolehkanku bermain-main dengan hujan lagi. Aku mulai bosan menunggu hujan, salah satu teman sekelasku meminta aku untuk menemaninya ke kamar kecil, aku duduk disebuah bangku kecil, kicauan manusia terdengar jelas, sedang ada yang asik berdua didalam kelas, air mata ini meluber kemana-mana rupanya mataku tak tahan menampung jutaan air mata, temanku kaget melihat aku seperti ini, dia membawaku kekelas untuk bertemu dengan teman-temanku yang lain, mereka dengan sabar menghiburku untuk menjadikanku kuat kembali, aku tau kuat itu hanya bertahan sementara.

Ternyata benar, aku tak kuat menahan pukulan keras itu, aku menangis semalaman, entah aku manusia jenis apa, yang bisanya menangis dan terus menyalahkan diri sendiri. Pagi-pagi pintu kamarku dibuka kencang oleh ibu, sambil berkata "kenapa? Ditinggal pergi? Semuanya tidak harus kamu miliki, setiap orang punya rasanya sendiri, setiap orang punyak hak untuk datang dan pergi" aku hanya diam, menarik selimut untuk menutupi mata yang bengkak ini.

Satu minggu yang lama, aku cukup puas terbaring lemas ditempat tidur, mencium bau obat-obatan serta tusukan jarum dimana-mana. Ini hari baru, aku tak mau dikalahkan oleh penyakit, sekarang aku harus memulai hari dengan semangat yang lebih besar, manampilkan wajah yang paling bahagia untuk semua orang, memperlihatkan senyum yang paling ikhlas untuk semua orang sama seperti sebelum kedatangannya. Dia datang lagi, dia menghampiriku mungkin ingin memperjelas semuanya, dia hanya duduk diam dibelakangku, tak berbicara apa-apa, yang aku baca dari raut wajahnya hanya bingung dan tidak tega melihat mataku yang mulai memerah, disana hanya ada aku dan dia, dia pergi dan berkata "nanti kita ketemu lagi, aku mau jelasin semuanya" 

Mungkin ini kejutan terhebat dari orang yang paling aku percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar