Jumat, 23 Oktober 2015

Pada

Terpencil berkawankan belukar, katanya
Pada rindu yang kutitipkan untuk aliran sungai mahakam
Sajak ini ku buat agar mereka mengerti
Pada hidup yang kau anggap modern
Tak ingatkah telah kau titipkan jantungmu disini
Pada penebang singgahan air hujan
Tak ingatkah telah kau belah hidupmu sendiri

Pada hama perusak kesuburan
Sambutlah tarian hudoq ini
Pada orang utan yang hangus dibakar
Beri tanganmu akan kutuntun menuju rumah
Pada pesut yang sudah tak muncul lagi
Abadilah menjadi patung ditepian

Pada roncean gelang berwarna-warni
Cantikmu melebihi segenggam emas
Pada tulisan batik yang kau anggap layu
Sampaikanlah ini yang paling segar
Pada sinar matahari yang masih sempurna
Biarlah mereka mengejekku hitam dan gosong

Pada lidah yang kau kata kuno
Seruput saja si ajaib air mahakam
Pada kau yang lupa pada sebutir nasi
Lahaplah semangkuk soto banjar yang dahsyat
Pada kau pecinta kue bertingkat lima
Cobalah wadai beribu rasa

Salam rinduku pada tanah Kalimantan
Katakan aku ingin segera pulang
Menikmati nyamannya angin yang berhembus pelan

Selasa, 13 Oktober 2015

404

Seratus empat puluh empat jam, ditambah kira-kira dua minggu. Tidak sampai setahun, sama seperti dua tahun yang lalu. Sama.. Wangi. Hitunganku salah rupanya. Matematika tidak bisa disamakan dengan keanehan ini. Mematung dan bingung. Lagi-lagi hanya sebentar, kira-kira enam puluh menit, tidak lama, namun dengan suara lembut yang memperdengarkan ayat-ayat suci beserta hadis-hadis sahih, hati ini tergerus menjadi lumat. Samar-samar, biru, abu-abu. Kombinasi warna ini membuatku seperti menggelitik diri sendiri. Ada yang bingung mengartikan perasaannya. Dijalan yang panjang, tersesat dan kedinginan, suaramu terus memandu arah jalan pulang yang tidak begitu jauh.