Seloyang kecil kue coklat, hampir satu tahun yang lalu.
Belum samar di ingatanku kejadian itu, walaupun sudah banyak memori - memori baru yang tertulis di dunia hujanku ini. Aku adalah perempuan penyuka hujan yang berusaha menutupi rasa kagum akan sosok pria berjaket merah maroon itu (merah maroon adalah warna favoritku) Tunggu.. Itu bukanlah jaket tapi sweater, sweater yang bagian ketiaknya bolong. Didepan cermin kusam itu aku berdiri tegap dan terus bertanya "apa yang membuatku kagum padanya" wajahnya yang rupawan? Senyumnya yang menawan? Cara berbicaranya yang menarik? Cara dia memimpin teman - teman yang lain? Bukan.. Bukan itu semua. Malam bulan purnama tepatnya tanggal dua puluh tujuh September, dia berbicara tentang Tuhan nya. Aku kira cukup untuk menjelaskan semuanya.
Aku teringat oleh pesan singkatnya. Dia akan datang menemuiku dimalam ulang tahunnya yang ke-19, oleh sebab itu aku memutuskan berkeliling dikota kecil yang asing ini untuk membeli seloyang kecil kue ulang tahun, aku berkeliling kota asing itu menggunakan motor bersama teman perempuanku. Sempat diperjalanan aku berkata "Udahlah pulang aja, gak ketemu tokonya, udah malam juga". Setelah lelah dan hampir putus asa, aku melihat di kanan jalan ada sinar lampu terang dari toko kue yang juga terkenal di Ibu Kota, saat itu nasib baik menemuiku, mungkin itu salam sapa dari kota asing yang akan kutinggali beberapa tahun kedepan ini.
Seperti janjinya, malam itu dia benar menemuiku. Mengucapkan salam dan senyum semanis - manisnya. Aku pun tersenyum malu saat melihatnya. Dia selalu bisa membuatku nyaman saat melihatnya. Aku menunggu detik - detik pergantian hari bersamanya, aku mau waktu berputar cepat agar kue yang sudah kubeli tidak meleleh dan masih enak untuk disantap bersama. Aku tak sama sekali mempersiapkan skenario malam itu, aku berusaha memutar otak memikirkan bagaimana cara memberikan kue yang sudah susah payah ku cari itu. Jam telah menunjukan pukul 00:00 otakku juga belum mengeluarkan ide. Akhirnya aku hanya memeluknya dengan erat sambil mengucapkan selamat ulang tahun dan mengucap doa.
Tiba - tiba ada yang berubah, dari senyum yang semanis - manisnya, ada dua mata yang mengisyaratkan sesuatu, ada yang ingin dia bicarakan. Sesuatu penting katanya. Sampai akhirnya hujan membanjiri pipiku yang dua tahun sudah dapat menahan tetesan - tetasan kecil dari sepasang bola mata. Aku tidak ingin melihat matanya lagi, tidak. Dia terus memelukku dari belakang, kencang sekali. Aku berusaha untuk melepaskan pelukannya, menandakan aku tak ingin ada kepura - puraan lagi.
Aku menyuruhnya agar segera pergi, aku menggembok pintu gerbang dan menutup rapat pintu. Aku masuk sambil mengusap segala sesuatu yang tumpah dari mataku. Didalam kamar kosan, aku memandangi seloyang kecil kue coklat itu, menancapkan lilin satu persatu lalu menyalakan lilin dan bertepuk tangan menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil terisak - isak. Aku tak mau sedih dipesta ulang tahunnya itu. Aku berusaha tersenyum melihat namanya tertulis di kue coklat itu. Lalu aku merapikannya kembali dan aku masih saja berharap bahwa seloyang kecil kue coklat itu sampai dihadapannya dengan senyum bahagia.
Aku menitipkan seloyang kecil kue coklat itu ke salah satu temanku yang memiliki mesin penyimpan makanan, khawatir kue yang sudah kubeli itu hancur dan lumat. Aku ingat hari itu cukup cerah. Aku benar - benar malas beranjak menghadiri kelas pagi itu, mataku masih sembab dan aku masih ngantuk karena tidak tidur semalaman. Alih - alih ingin memberi kue itu, dia malah tidak datang untuk kelas. Aku tetap menunggunya sampai satu per satu teman sekelasku pergi. Tidak sampai disitu saja perjalanan seloyang kecil kue coklat itu, dia harus menunggu sampai hari berikutnya untuk bisa disantap. Aku masih menitipkan kue itu ke temanku yang memiliki mesin penyimpan makanan itu.
Hari itu pun tiba. Seusai kelas dengan malu - malu aku mengambil kue yang telah ku titipkan dikantin. Menunggu diluar, menyalakan lilin yang selalu mati tertiup oleh angin, meniup balon hingga pipiku sakit dan ngilu. Wajahnya masih tetap sama dengan wajah terakhir di teras kosan. Tapi aku berusaha mengelak semua perasaan burukku itu. Aku berusaha menerima wajahnya siang itu. Aku berusaha menjadi seseorang yang sewajarnya ketika memberikan kejutan (kejutan yang gagal) itu kepadanya. Ya simpul senyumku masih tetap melekat pada bibir sampai seorang teman mengambil foto kita dengan handphone miliknya.
Terimakasih telah membuat aku berpikir bahwa ada yang lebih istimewa daripada seloyang kecil kue coklat, pelukan kecil, dan sedikit doa yang aku berikan malam itu.
Maaf kuenya sudah hancur dan tidak enak, seharusnya aku membeli kue yang baru.
Selamat tinggal, untuk kamu yang pernah aku usahakan.