Minggu, 29 Januari 2017

Kalau Aku Sudah Tidak Ada

Kalau aku sudah tidak ada, akan lebih banyak yang mengirimimu pesan kecil walau cuma sekedar bertanya "sehat?", akan tetap selalu ada yang mengingatkan mu waktu-waktu penting, akan tetap selalu ada yang bertepuk tangan dengan kencang ketika kamu berhasil dalam suatu pencapaian dan akan tetap selalu ada yang mengelus pundakmu ketika kamu merasa susah.

Kalau aku sudah tidak ada, akan lebih banyak waktu yang kamu gunakan dengan bermanfaat, bukan hanya sekedar duduk berdua di warung kecil di belakang atau di depan kampus berjam-jam, akan ada banyak waktu untukmu duduk di dalam suatu majelis, dan akan ada banyak waktu untuk lebih mengenal Tuhan.

Kalau aku sudah tidak ada, kamu akan bertemu dengan orang yang lebih sabar, ikhlas, tulus, dan ridho. Kamu akan bertemu dengan orang yang membawamu kedalam kebaikan, kamu akan bertemu dengan orang yang bisa meredam amarahmu, kamu akan bertemu dengan orang yang dapat memberikan ide-ide baru, kamu akan bertemu dengan orang yang kuat yaitu orang yang tidak akan mengeluh diwaktu yang kurang tepat.

Kalau aku sudah tidak ada, akan ada seseorang yang akan menuruti semua aturan yang kamu buat, akan ada seseorang yang suaranya lebih merdu ketika membacakan surah dalam Al-Quran, akan ada seseorang yang selalu terjaga di sepertiga malam milik Nya, akan ada seseorang yang membangunkanmu ketika adzan subuh berkumandang, akan ada seseorang yang merengek kepadamu untuk sekedar meminta penjelasan tentang agama, akan ada seseorang yang memintamu untuk membantunya menghapal surah dalam Al-Quran, akan ada seseorang yang mengsisi shaf bagian belakang milikmu yang telah lama kosong, akan ada seseorang yang kehadirannya tidak akan pernah membuatmu bosan.

Terlalu berat kutulis ini..
Dan kalau aku sudah benar-benar tidak ada.. artinya aku telah menjelma menjadi hujan... rintiknya yang jatuh.

Jumat, 27 Januari 2017

Handphone Putih

Aku bukan tulisan yang sempurna seperti pesan singkat yang kau ketik September tahun lalu. Aku lebih rumit daripada bahasa, aku lebih rumit daripada kebohongan yang selalu aku percaya.

Handphone putih miliknya tertinggal di meja ruang tunggu kos-kosan ku, dengan sengaja ku buka handphone putih tanpa password itu, ku lihat beberapa pesan singkat dari perempuan selain diriku. Ini bukan kali pertama aku terkejut dan menahan kucuran air yang akan menghujam pipiku.
Dia tak butuh aku, dia tak butuh perempuan cengeng, dia tak butuh perempuan yang kerjaannya menceritakan keluh menjadi suatu paragraf yang dapat dibaca oleh orang dengan bebas.
Ku rapikan kembali handphone putih miliknya diatas meja. Pandanganku tertuju pada handphone putih miliknya lalu menunduk dan sesekali ingin ku lontarkan umpatan untuk pemilik handphone putih tersebut. Ini terlampau sakit, bahkan sudah menjadi mati ketika ditanya "are you ok?"
Sesak sempit dan terlalu banyak manusia didalamnya. Kau pindahkan tubuhku sekaligus menghapus semua sajak yang ku rangkai dijalan yang tadinya sepi. Dadaku terlampau sesak. Seketika kau mengubahku menjadi perempuan murung yang senang menyendiri.
Aku terkurung dibalik sebuah petak kedap suara yang sengaja kau buat. Kau ikat kuat kebebasan yang seharusnya ku dapat. Aku berada di sisi terbawah dari sudut yang paling bawah. Gelap, bahkan wangi tanah akibat hujan pun tak dapat kucium lagi. 

Apakah kau tau bagaimana perasaanku ketika harus rela berbagi ruang didalam handphone putih milikmu?

I have nothing and i know that. Itu alasan yang cukup untuk tetap berada di dalam "rumah".