Senin, 27 April 2015

Sedetik

Jumat itu dia mengajakku untuk pergi makan ice cream bersama. Aku mengenakan baju bewarna abu-abu dan seperti biasa dia dengan warna favoritnya; hijau. Aku tak memiliki penampilan luar biasa. Aku perempuan biasa yang hanya memakai kaos oblong, sneaker, tas selempang kecil, juga tanpa polesan makeup sedikit pun. Aku menjadi diriku tanpa menutupi apapun.

Wajah yang selalu kupandangi adalah miliknya, milik lelaki yang selalu membuatku merasa spesial, milik lelaki yang aku suka. Ice cream yang kupesan mulai meleleh, aku memakannya perlahan agar aku bisa tetap duduk dihadapannya, aku tak mau ice cream itu cepat habis, aku mau waktu membeku seperti ice cream yang ku pesan. Dia mengajakku untuk foto, dengan handphonenya yang canggih. Dia menghampiriku, duduk disebelahku. Dia duduk sangat dekat denganku, jantung ini berdebar begitu kerasnya, perasaan ini senang begitu hebatnya.

...

Detiknya berputar begitu cepat, membawaku pada kenyataan bahwa dia sudah tiada. Dia sudah pergi. Dia yang pergi meninggalkan senyuman paling indah itu membuat mata ini semakin tak tahan. Hari-hariku sudah berubah, tak lagi sama, sudah berbeda. Tak ada lagi dia yang setiap pagi berteriak ohayou, tak ada lagi dia yang setiap malam berbisik oyasumi. Dia berubah, dia berubah untuk sejarah, kembali pada sejarah, memulai sejarah baru dengan sejarah lama.

Aku kira kita dapat berbagi waktu sampai.. entah kapan, tapi semuanya salah, aku salah, selalu begitu. Aku tak memiliki banyak waktu. Dia hanya memberiku waktu enam bulan untuk tetap berada disampingnya. Sekarang aku bukanlah menjadi satu-satunya perempuan yang dibonceng untuk pergi bersama, aku bukanlah lagi orang yang diajak makan ice cream favoritnya, aku bukanlah lagi orang yang diajak makan batagor favoritnya, aku bukanlah lagi orang yang dimintai pendapat saat dia membeli pakaian baru, aku bukan lagi orang yang berada disampingnya saat berfoto, aku bukanlah lagi orang yang digandeng tangannya, aku benar-benar bukanlah lagi orang yang dia cinta.

Aku kangen masa dimana dia masih memanggilku dengan sebutan berbeda. Aku yang bodoh adalah penghapal yang paling jenius, aku mengingat semua, mengingat kehangatan yang dia beri. Namun penghapal yang paling jenius ini punya titik bodoh yang paling bodoh, yaitu tak dapat melupakan sepenggal dari dirinya.

Kenapa kamu harus tersangkut pada sejarahmu? Bukankah kamu sudah pelan-pelan melangkahkan kaki padaku? Tak bisakah kamu kembali barang sedetik?