Senin, 09 Oktober 2017

a letters from the rain to the sun #2

Ini adalah ketakutan yang sejak lama ku pendam, bahkan membayangkannya pun aku tak sanggup. Kamu adalah lelaki pemberani yang selalu aku takuti. Akhirnya hari itu terjadi juga. Tepat tiga hari yang lalu. Baru kali ini aku benci melihatmu, aku benci mendengar ucapanmu, aku benci kamu yang berteriak didepan wajahku, aku benci harus berlari dan memagang tanganmu malam itu. 

Sun.. jangan biarkan otakku membencimu sedikit demi sedikit, karna ini begitu sakit. Bahkan air mata yang selalu membanjiri wajahku malam itu hanya sebatas lewat dan mengering dengan cepat. Hati ini terlalu lama sakit untuk menahan semuanya. Kau terus membiarkan aku menerima kepahitan. Aku akui aku sudah sangat lelah. Entah tempaan apa lagi yang kamu berikan ke aku. 

Aku tidak menjanjikan bahwa aku akan tetap berada disampingmu, Sun. Sama seperti kau yang tidak bisa menjanjikan bahwa kau tidak akan mengulangi perbuatanmu kembali. Sun.. sebelum nafasku diambil Tuhan, aku ingin kau berubah. Sun.. kau paling tahu dirimu sendiri, jadi aku tak perlu membicarakan semuanya kepadamu, kamu adalah lelaki paling cerdas yang pernah aku temui, kamu adalah lelaki paling baik versi aku si tukang ngeluh yang paling cengeng sedunia ini. 

Ini bukan salah kamu, salah aku, apalagi dia, kita sama-sama tak punya hak untuk menerima kesalahan itu. Kadang aku bingung, Sun. Aku benar-benar bingung. Kamu siapa? aku siapa? kita ini apa? sampai batas mana aku bisa mengomentari hidupmu yang sekarang? sampai batas mana kamu bisa mengomentari hidupku yang sekarang?

Aku selalu berusaha untuk tidak ingin tahu kehidupanmu yang sekarang, bukan karna aku benar-benar tidak peduli lagi. Tapi aku butuh ruang untuk sejenak melupakanmu, sejenak, sejenak saja.

Sun... malam ini perempuan cengeng ini kembali menitikan air mata.

Ah..... Sun. Aku benci kamu, aku benar-benar-benar benci kamu.

Aku titipkan surat ini kepada langit, semoga kau mengerti dan memahami.

Selasa, 03 Oktober 2017

a letters from the rain to the sun #1

Hai, Sun. Apa kabar?

Sun. Perempuan yang kau kenal dua tahun ini sekarang lebih menjadi seorang introvert yang sangat tertutup untuk orang lain. Dia menjadi pemurung yang kerjaannya melamun, makan, tidur, dan sesekali juga memikirkan kabarmu yang tidak jelas keberadaannya. 

Sun. Banyak sekali pelajaran yang kuambil dari setiap kata-katamu. Aku terlalu senang memikirkan kata-katamu yang tidak pernah mengumbar suatu ibadah ataupun suatu kemalangan. Satu yang perlu kamu tahu, aku sudah belajar tidak menimpali keluhan orang lain dengan keluhanku sendiri.

Sun. Aku sangat rindu untuk sekedar melihat wajahmu dengan dekat dalam diam yang sunyi.