Aku bukan tulisan yang sempurna seperti pesan singkat yang kau ketik September tahun lalu. Aku lebih rumit daripada bahasa, aku lebih rumit daripada kebohongan yang selalu aku percaya.
Handphone putih miliknya tertinggal di meja ruang tunggu kos-kosan ku, dengan sengaja ku buka handphone putih tanpa password itu, ku lihat beberapa pesan singkat dari perempuan selain diriku. Ini bukan kali pertama aku terkejut dan menahan kucuran air yang akan menghujam pipiku.
Dia tak butuh aku, dia tak butuh perempuan cengeng, dia tak butuh perempuan yang kerjaannya menceritakan keluh menjadi suatu paragraf yang dapat dibaca oleh orang dengan bebas.
Ku rapikan kembali handphone putih miliknya diatas meja. Pandanganku tertuju pada handphone putih miliknya lalu menunduk dan sesekali ingin ku lontarkan umpatan untuk pemilik handphone putih tersebut. Ini terlampau sakit, bahkan sudah menjadi mati ketika ditanya "are you ok?"
Sesak sempit dan terlalu banyak manusia didalamnya. Kau pindahkan tubuhku sekaligus menghapus semua sajak yang ku rangkai dijalan yang tadinya sepi. Dadaku terlampau sesak. Seketika kau mengubahku menjadi perempuan murung yang senang menyendiri.
Aku terkurung dibalik sebuah petak kedap suara yang sengaja kau buat. Kau ikat kuat kebebasan yang seharusnya ku dapat. Aku berada di sisi terbawah dari sudut yang paling bawah. Gelap, bahkan wangi tanah akibat hujan pun tak dapat kucium lagi.
Apakah kau tau bagaimana perasaanku ketika harus rela berbagi ruang didalam handphone putih milikmu?
I have nothing and i know that. Itu alasan yang cukup untuk tetap berada di dalam "rumah".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar