Kamu sudah mati, kamu sudah benar-benar mati.
Sudah satu tahun tepat, sejak pertemuan pertama
kita. Pertama maaf sudah menjadi perempuan yang suka mengeluh, merengek dan
terus merengek karena perlakuanmu yang seharusnya aku terima tanpa spasi karena
atau tetapi.
Dua pasang bola mata yang (kembali) hadir
menyapaku malam itu. Sifatmu yang kembali berubah menjadi tidak seperti yang
aku kenal. Kamu lupa sumpahmu mengatasnamakan Tuhan, kamu lupa sudah ratusan
kali membuat hatiku yang utuh kembali berkeping-keping, kamu benar-benar lupa akan
aku.
Kamu lepaskan jaket maroon milikku, melipatnya
menjadi dua dan menaruhnya dipangkuanku. Sebelumnya kau juga meminta sweeter
milikmu yang terlanjur menjadi favoriteku. Kamu tahu perasaan ku saat itu bagai
kapas lembut yang membeku, sulit untuk mendeskripsikannya. Bahkan hatiku
otomatis berkata "dia mau pergi lagi".
Kamu tidak pernah tahu bagaimana cara kerja
otakku yang selalu berusaha merasionalkan perlakuan-perlakuan curangmu. Sungguh
sangat berat, sangat teramat berat. Aku yakin, kau tidak akan sanggup untuk
melakukannya.
Kau menjadi seseorang yang otoriter dan aku
menjadi penurut yang takut akan bentakan.
Aku kehilangan banyak dan mencoba mengais kembali
sekiranya masih ada yang tersisa. Semakin mengais semakin hilang. Dan hasilnya
apa?
Boleh aku ajarkan
cara pergi yang sebenarnya?
Kata terakhir kalimat pertama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar