Waktu itu, masa yang sudah tidak akan bisa diputar kembali. Kami adalah dua orang yang rumit, bahasapun tidak akan bisa mengartikan kedekatan kami waktu itu. Kami menjalani hubungan dengan komitmen yang sangat kuat, kami terus bersama tanpa harus ada yang namanya status.
Sosok yang sampai saat ini saya kagumi itu kini mulai menjadi semu, tidak seperti dulu yang senang sekali membuat saya tersanjung dan terus tersenyum. Ketika saya sudah tidak bisa memintanya tetap tinggal dan harus rela bahwa semunya tidak lagi dapat diteruskan adalah hal yang paling berat, apalagi ketika harus memilih untuk diam dan legowo. Bagaimana saya harus menerima takdir dunia? Bagaimana cara saya menerima kenyataan ketika orang yang pertama kali memulai menggoreskan penanya dikertas putih milik saya harus berhenti bekerja.
...
Otakku tidak pernah berhenti memikirkan kegilaan yang pernah kami lakukan bersama dulu. Kegilaan-kegilaan yang membuatku merasa begitu beruntung itu telah menjadi tumpukan kertas kumal yang memenuhi ruang-ruang kosong. Kegilaan itu sudah ku susun rapi dikotak kecil berwarna hijau, aku tak berani melihatnya. Aku takut, aku takut pipi ini dipenuhi air mata lagi.
Dia menjadi satu-satunya orang yang paling sabar mengetuk pintu kamarku ketika aku mulai gerah dengan kehidupan, dengan sabar memberi petuah-petuah menyejukkan. Saya rindu sama kamu, saya rindu hujan kita, hujan dan jalanan milik kita. Disini sekarang sudah tidak ada lagi yang seperti kamu; penyuka wangi hujan. Tidak ada yang menemaniku menikmati suara hujan, saya kangen kamu. Kamu masih disini kan? Kamu dengar saya? Sekarang lagi hujan, suara petir itu menakutiku, aku rindu saat kamu menutup telingaku dengan sebelah tanganmu, aku rindu ketika kamu diomeli mamamu karena membiarkan tubuh mungilku ini dibasahi oleh air hujan, aku rindu masa sekolah kita, aku rindu naik angkot, aku rindu jalan kaki, aku rindu dibonceng, aku rindu ditilang polisi, aku rindu diajari matematika, aku rindu melihat matamu yang coklat. Aku rindu sama-sama.
Kamu pergi gak bilang-bilang, aku marah.
Raganya sudah tiada, tertiup angin mungkin atau terbawa badai dilaut. Kehadirannya masih disini, dia melindungiku dengan kesemuan yang dimilikinya sekarang. Lihat, hujan-hujan itu menyebut namamu kencang sekali, dia ingin mengembalikan jasadmu untukku, untuk bercanda gurau dengan tetesan miliknya lagi, hujan kangen suara keras mu menyebut nama kita; namaku dan namamu. Kamu tau, hujan kangen.
Kematiannya tiga tahun yang lalu membuatku benar-benar kehilangan akal, separuh dari hidupku seakan pergi menjauh, Aku boleh kangen turus dong? Aku kangen kamu. Kamu baik-baik ya disana. Aku tidak jadi marah.
Saya percaya, Tuhan telah mempertemukan kita dengan tujuan yang baik, begitu pula ketika kita harus dipisahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar