Selasa, 10 Maret 2015

Kaca Sepion

"Jangan tinggalin aku ya, jangan pergi-pergi". 

Pulang sekolah tepatnya, hari itu aku tak membawa kendaraan sendiri, aku memintanya untuk mengantarku pulang. Dibelakangnya sambil mengusap sedikit air mata yang tak sengaja terjatuh, tanpa sepengetahuannya aku memegang erat kantung jaket yang ada dipinggangnya, bukan karna takut jatuh, tapi aku takut jika dia tiba-tiba pergi.

Dari kaca sepion motor kesayangannya, aku tetap pada posisiku, dibelakangnya. Masjid besar disimpang empat itu telah menjadi saksi ketika dia mengarahkan kaca spionnya ke belakang, disana aku juga melihat wajahnya, wajah seseorang yang aku suka. Senyum manisnya, aku juga suka, aku masih suka. Aku mendadak bisu diam seribu bahasa, aku terpana oleh tatapan yang kapanpun bisa pergi tanpa sebab. Aku tersenyum kepadanya lalu mengubah pandanganku ke punggungnya, entah ada apa dipunggungnya, aku hanya merasakan wangi parfumnya. 

Masker hitam itu menutupi wajahnya namun tidak dengan matanya, disana ada sepasang mata indah yang tidak ku lupa, ada sepasang mata yang dulu selalu melihatku, ada sepasang mata yang dulu selalu memperhatikanku, ada sepasang mata yang dulu berkedip untukku, ada sepasang mata yang dulu menyipit untukku, ada sepasang mata yang dulu katanya milikku.

Aku selalu berusaha mengubah diriku menjadi orang yang lebih baik. Aku berusaha tekun belajar, aku berusaha menambah ilmu pengetahuan umumku agar bisa nyambung saat berbicara dengannya, aku berusaha tidak cengeng, aku berusaha tidak mengeluh, aku berusaha agar ke-melankolisanku ini cepat menghilang dari diriku, aku berusaha menyukai apa yang dia sukai bahkan ketika dia menyukai perempuan lain; aku juga berusaha untuk menyukai itu. Aku melakukannya untuknya dan deminya. Sebab aku takut jika dia berubah sedikit, se-sedikit apapun itu. 

Mulutku selalu kaku untuk mengucap "jangan pergi". Aku percaya dia tidak akan pergi, bahkan ketika dia benar-benar pergi aku masih percaya; dia hanya pergi sebentar lalu kembali lagi. Kata yang hendak ku ucap itu selalu membuatku mati gaya, aku ingat benar rasanya terkelu dihadapannya. Aku benci saat itu, saat dimana perasaan takut yang sangat hebat itu mulai muncul, perasaan yang kapanpun bisa membuatku gila ini terus bergelantungan diruang-ruang kosong otakku. Aku takut dengan ketakutanku.

...

Dia sekarang sudah benar-benar pergi, dia pergi saat aku mulai dicampakan dunia, dia pergi saat aku harus mengejar ketertinggalan, dia pergi saat aku benar-benar sedang membutuhkannya. Namun dia mengisi akhir cerita putih abu-abu ku dengan sempurna, bahkan dia tak pernah marah padaku, dia selalu membuatku merasa beruntung, dia teman dekatku yang paling baik, sangat baik.

Sebaris kata yang tak sempat ku ucap itu sekarang menjadi sesal yang teramat dalam. 

Sekarang duniaku tak lagi sama, tolong bantu aku untuk menikmatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar