Waktu itu di laboratorium biologi, hujan membawa kami berteduh sebentar dikoridornya. Hujan rintik itu, aku suka. Kami sama-sama belum makan, kami memiliki waktu istirahat sebelum ujian praktek selanjutnya dimulai, entah apa yang membawa kami ke warung mie ayam, itu adalah warung mie ayam langganan teman-teman kelas kami. Enak, aku juga suka.
Aku duduk tepat didepannya, entah senyumnya saat itu membuatku menjadi canggung, senyumnya adalah semangat untuk orang melankolis sepertiku, aku diam sambil tersenyum dalam hati, aku tak ingin detik di jam tanganku cepat berputar, aku tak ingin kembali ke sekolah untuk ujian praktek selanjutnya. Dia yang saat itu terus kupandangi wajahnya membuatku ingin tetap berada disana, berdua.
Aku selalu menyisihkan batang sawi yang tercampur di mie ayamku ke piring kecil. Sambil menyodorkan mangkuknya, dia melihatku dan berkata "Gak suka? Enak, krenyes-krenyes" aku paling takut kalo udah makan bareng, dulu dia pernah cerita tentang penularan penyakit melalui air liur, sedotan, makanan dan lainnya, aku pikir dia tidak akan mau memakan batang sawi milikku setelah bercerita tentang itu.
Bibirnya memerah, matanya berair dan terlihat ada keringat yang keluar dari wajahnya, dia kepedasan. Telepon genggamku terus berbunyi, teman sekelasku memberitahu ujian praktek akan segera dimulai, alhasil kita harus cepat-cepat untuk kembali keselolah. Jalanan sedikit macet, rintik hujan datang lagi, aku menutup mataku sambil menikmati wangi hujan dan rintik kecil bersamanya diatas sepeda motor milikku.
Tidak kusangka, itu adalah mie ayam dan es jeruk terakhir yang kunikmati berdua dengannya, mungkin ini lebih dari cukup untuk membuatku bahagia. Dia suka aku juga suka, dulu. Kita adalah sepasang yang aneh, aku tidak tahu apa yang dulu kita lakukan dengan hubungan seperti itu, kita adalah sepasang yang harus terpisah, bukan jarak juga bukan waktu, aku tidak benci dan aku tidak akan pernah bisa membenci, aku tetap seperti aku yang tidak akan mencari tau sebab perginya dulu.
Mie ayam ini mengingatkanku padamu, terutama pada batang sawinya, lucu ya. Entah sudah berapa mangkuk mie ayam dan es jeruk yang ku nikmati sendiri. Sekarang aku harus mencoba menahan ketidaksukaanku pada batang sawi yang rasanya aneh, aku menutup mataku sambil berusaha mengunyah sedikit demi sedikit batang sawi yang tercampur didalam mie ayamku, meski rasanya pahit aku berusaha menelannya. Aku terus mencoba menyukai batang sawi itu, mungkin itu adalah caraku untuk menghidupkannya kembali.
Setiap hari dan sampai hari ini aku terus mencoba melupakan mie ayam dan semua makanan yang pernah kami makan bersama, aku mencoba melupakan rasanya makan satu meja dengannya. Aku belum sampai, aku belum sampai pada kata yang menjadi kalimat; aku akan melupakan kita.
Makan mie ayam sama-sama lagi yuk, hhe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar