Selasa, 24 Juni 2014

Senyum Terakhirmu

25 April 2014, aku seolah menjadi perempuan paling beruntung malam itu.

Aku datang ketika acara hampir dimulai. Celingukan mencari seseorang itu, mungkin dia sudah masuk duluan. Aku berusaha mencari teman-temanku tapi mata minus ini tak bekerja dengan baik tanpa bantuan alat, dengan mata yang disipitkan aku terus berjalan lurus mencari tempat duduk yang kosong, tiba-tiba ada yang memanggilku. Dua orang temanku itu berniat membagi kursinya denganku, aku bersyukur mereka mau berbagi kursinya. Aku mengenakan jilbab berwarna hijau malam itu, tanpa sengaja aku memilihnya. Aku gelisah toleh sana-sini sepanjang acara, mencarinya yang sedari awal tak kutemui, aku malu mengiriminya pesan untuk sekedar menanyakan "kamu dimana" aku tau itu bukan porsiku. Malam itu aku benar-benar ingin melihat wajahnya, ada rindu yang teramat dahsyat, entah pertanda apa. Aku ingin meminta maaf karena sehari sebelum pelepasan aku seperti tak suka mendengar dia meminta izin untuk pergi ke acara pelepasan bersama orang lain. Dari tahun ketahun yang ku tunggu adalah pemutaran vidio, aku tidak berharap vidioku bisa ditampilkan, tapi aku berharap untuk vidionya. Seperti keinginannya, aku juga selalu berdoa untuk vidio miliknya. Dan sekali lagi dia membuatku berdecak kagum serta berteriak sambil bernyanyi sekencang mungkin. Alhamdulillah, Allah maha baik. Vidionya terpilih, aku tau dia hebat. Aku ikut senang. 

Setelah akhir acara, aku tetap duduk ditempat itu, menyibukkan diri dengan handphone kosong, sesekali membuka sms dan line, namun tak ada namanya disana. Tak berapa lama dia datang dan duduk tepat disebelahku, dia menyapaku seperti biasa; dengan lembut dan tenang. Aku menatapnya dalam diam, entah apa yang harus ku ucap, aku benar-benar senang dan bangga. Aku berbisik kepadanya untuk mengucapkan selamat serta membawa punggung tangannya mendarat dikeningku. Ini kedua kalinya dia membuatku menangis kesenangan.

Kita diminta segera meninggalkan ballroom. Kita keluar sama-sama menuju tempat foto, dia mengajakku foto. Dia baik, dengan sabar menungguku yang asik berfoto bersama teman-temanku, maaf telah membuatmu menunggu. Ada satu foto polaroidnya yang masih kusimpan rapi sampai hari ini, apa dia masih menyimpan foto polaroidku juga? Udah larut malam, dia menyuruhku untuk segera minta dijemput. Dia mengajakku untuk menunggu di lobby, aku kira dia akan membiarkanku sendirian. Dia yang tadinya berjalan agak sedikit didepanku kini ada disampingku setelah melihatku yang susah berjalan karena tidak terbiasa menggunakan hak tinggi. Kita duduk di lobby bersama sepasang teman kami, yang seperti biasa melempar senyum jail setiap melihat kami berdua. Dia terlihat sedikit agak bosan menungguku dijemput, aku terus memanggil-manggil namanya sambil tertawa agar suasana menjadi lebih bersahabat, dia bilang "Apaa.." matanya mulai menyipit dan memerah karena mengantuk, dia lucu, aku tak ingin melepas senyumnya malam itu namun tak berapa lama aku dijemput. Dia melempar senyumnya untuk yang terakhir kalinya malam itu dengan layu.Tapi itu senyuman paling indah yang pernah ku dapat darinya.

Aku rindu, sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar