Kamis, 26 Juni 2014

Kebetulan?

Satu tahun yang lalu...
Lelaki itu memakai tas selempang dengan list hijau. Dia singgah kekelasku, entah apa yang dilakukannya.Yang ku ingat, ketika itu dia melakukan tos bersama salah satu teman sekelasku sambil tertawa kecil. Namun yang tak ku pahami saat itu adalah saat mataku dan matanya tak sengaja bertemu, padahal jarak kita hampir dua meter. Aku memalingkan wajahku secepat mungkin, aku tak pernah tahan dengan tatapan tajam seseorang. Begitu juga dengannya yang memalingkan wajah dan bergegas pergi karena ditarik oleh perempuan berambut lurus serta bando berwarna ungu yang menghiasi kepalanya.

Banyak orang yang memanggilnya, hingga aku mengetahui namanya, nama depannya. Ternyata dia memang sangat berbeda denganku, dia cukup keren untuk menjadi sorotan disekolah; gaya, karisma dan wajahnya. Tak heran kalau banyak perempuan yang mabuk dibuatnya. Yang kutau dia sangat aktif disekolah, dia juga punya peranan khusus dalam acara-acara besar sekolah, anehnya dia tidak ikut serta dalam kegiatan osis.

Pulang sekolah, seperti biasa aku senang melihat warga sekolah berhamburan menuju pintu gerbang. Ada yang lain waktu itu, ada dia. Dia yang sibuk dengan kameranya, jepret sana-sini, mengatur barisan, hingga dirasa udah tepat. Salah satu temanku yang ada dibarisan itu menoleh keatas serta menjeritkan namaku. Aku terkejut ketika lelaki yang mengalungkan kameranya itu ikut menoleh keatas, aku hanya memberi senyum kecil dan lambaian malu pada temanku itu.

Aku selalu menjadi penghuni terakhir kelas, dikarenakan aku masih sibuk dengan les kimia atau fisikaku. Salah satu caraku untuk bisa tenang selain pergi kemasjid adalah berdiri dikoridor sendirian menutup mata merasakan wangi udara yang sangat segar, bernapas sepuas mungkin untuk menghilangkan penat. Setiap disana aku ingin berteriak kencang tapi ini sekolahan, tidak baik berteriak tak karuan. Aku membuka mataku yang tertutup rapat sambil menolehkan tubuh ke arah kanan ditambah dengan wajah kaget dan mungkin sedikit terlihat bodoh. Aku dikagetkan oleh dua orang yang selalu bersama itu. Kini mataku lebih tertarik pada perempuan yang sering bersamanya.

Dihari berikutnya. Aku menyusuri lorong-lorong gelap itu sendirian, kudapati dirinya bersama perempuan yang sama. Duduk berdua dikoridor kelas, sangat dekat, dekat sekali. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang serius, aku membaca dua raut wajah yang terlihat tegang. Aku terus berjalan lurus, sedikit melirik dan kembali melihat kedepan, seakan tak melihat apapun. Lorong terasa sunyi senyap tak bersuara, aku takut dan memutuskan untuk berjalan cepat. 

Jujur aku kagum dengannya, tidak lebih. Aku tidak pernah mencari tau tentangnya, sama sekali. Namun ocehan teman sekelasku yang katanya pernah sekelas, yang membuat aku banyak tau tentangya. Dari teman sekelasku itu juga aku tahu kalau perempuan yang sering bersamanya adalah kekasihnya. Aku tidak kaget, aku tidak hancur dan biasa saja mendengar itu semua.

Tahun ajaran baru,
Suasana yang sangat berbeda, tentunya teman-teman baru. Aku harus berpisah dengan koridor yang mempunyai besi-besi sebagai tempat pegangan, namun ada penggantinya; kelas yang nyaman untuk tidur, kelas baruku gelap dan lumayan dingin daripada kelasku yang dulu. Dari dulu aku memang tidak pernah berubah, suka tidur dikelas. Dari yang telungkup dimeja, susun kursi jadi tiga, sampai pinjem jaket temen buat jadiin alas tidur atau bantal. Pulang-pulang baju lecek semua. Hidupku memang berantakan dari dulu tapi aku bertekat untuk berubah, tapi tidak untuk tidur dikelas.

Tak disangka aku satu kelas dengan lelaki itu. Setelah bersama dalam satu ruang kelas dengan waktu yang cukup lama, aku mengetahui sifat aslinya. Dia sangat-sangat menyebalkan. Aku mengakui dia pintar, cerdas dan akif. Tak jarang buku PR miliknya banyak dipinjem temen-temen. Beda jauh denganku yang lemah gemulai mencari posisi paling nyaman untuk tidur. Dan ditahun yang baru ini aku mulai jarang melihatnya bersama perempuan itu lagi.

Karena dua hal, kita mempunyai selera musik yang sama dan belajar bareng. Awalnya kita cuma temenan, dia juga yang duluan mengirimiku pesan. Dari situ lempar kabar kita terus berlanjut, aku jadi punya presepsi lain tentang sifatnya yang menyebalkan tadi. Dia orang yang sangat-sangat baik dan asik, kalau kita tau alur hidupnya.

Kebetulan ini seperti sudah diatur, kita bertemu lagi. Menjadi teman yang sangat dekat, dengan status lajangmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar