Kami
duguncangkan dunia yang ditutup kabut berselimut mimpi
Kami dibatasi
oleh mimpi yang seakan nyata untuk dihuni
Namun terasa
sunyi ketika ditinggali
Bayangan yang
seakan nyata menjelma merasuki sukma buatan
Mereka hadir
bagai mimpi buruk bagi penghuninya
Mereka nampak
tapi palsu dengan suara keadilan semu
Menggambarkan
kepalsuan yang selalu berulang
Jalan saja
sampai lelah, mengitari jagat yang sesak dengan kemunafikan
Membengang lebar
mulutku ini melihat keadaan yang berbalik tak karuan
Mereka tembok
besar penghalang jiwaku
Aku mau bebas
tapi tak mampu
Duniaku hanya
terlihat baru dan nyata
Dibaliknya hanya
ada lelucon konyol tak bersuara
Meniti waktu samadengan
menyudahi perbudakan
Selimut pembawa
mimpi kembali datang dengan hal yang baru
Rakyatnya ditipu
oleh pembaruan yang terbelenggu
Kepercayaannya
dianggap jelaga semata
Yang disebut
baru hanyalah buaian para pencuri
Aku ditipu oleh
penyuara ulung pengemban nasib
Nasibku diputar
balik dan digantung tinggi-tinggi
Lalu dihempas
dan dibuang setelah membubung tinggi
Jiwaku seperti
ditusuk ribuan duri
Apalah arti
ranting yang terikat
Diatas
ketidakberdayaan tubuh yang tergoyah
Berkoar-koar
dalam lorong sempit berpenghuni
Menjanjikan
penghapusan pada kemiskinan
Ahli politisi
menghambur semesta
Hadir dengan
langkah tegap beserta setelan rapi
Mengumbar janji
pada sang pemimpi
Tersungkur malu
aku pada kenyataan
Terbahak
keras aku pada keadaan
Melihat
permainan baru sang penguasa
Terbaring
lesu dikeheningan
Terlihat
wajah-wajah murung tak berkawan
Tergeletak
lemas atas ketidakberdayaan
Yang
telah acuh pada nasib yang di beri
Kehampaan
ini terus menarikku dalam kegelapan
Semua
terasa rusuh dan bingar
Selamat
tinggal untuk keadilan yang merunduk malu
Terkuaklah
pemilik kepalsuan
Pijakanku
menjadi satu-satunya saksi
Dimana
maling dunia menemui bui
Tidak ada komentar:
Posting Komentar