Sabtu, 28 Juni 2014

Belum Sempat Terucap

Dulu dengan muka datar dan prilaku aneh di hadapanku, dia menjadi seseorang yang berbeda ditengah kegembiraan. Kenyataan terus membawaku berjalan lurus. Menjalani kisah yang tak kunjung berujung. Awal pertemuanku dengannya, biasa saja tanpa hal yang menarik sedikitpun. Yang aku tahu dia sosok pendiam tanpa sedikitpun gurauan. Dia sosok yang membuatku risih dengan kesendiriannya. Mungkin sikapnya memiliki arti tersendiri. Aku rasa dia tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang di dunia yang luas ini. 

Aku dipertemukannya lagi dalam suasana yang berbeda, setahun waktu yang sangat singkat untuk mengubah seseorang sepertinya menjadi orang yang humoris. Semua berawal dari kicauanku, obrolan kami berlanjut di pesan singkat. Gayanya yang kini terlihat asik dan menyenangkan membuat aku penasaran, namun rasa penasaranku itu harusku pangkas habis. Dia datang bukan untuk aku, tapi untuk orang lain. Aku menjadi teman curhatnya yang paling baik dan paling mengerti. Dia selalu mengusap kepalaku jika kata-kata yang keluar dari mulutku menyadarkannya.

Semua perhatian yang dia beri mungkin selalu aku salah artikan, diam-diam aku menyimpan rasa untuk orang yang menganggapku sebagai sahabatnya. Aku selalu mengusap basah di pipiku sendiri ketika dia mulai bercerita tentang orang yang disukainya. Bagaimana bisa orang yang aku cinta malah bercerita tentang orang yang dia cinta? Setiap hari aku berusaha untuk tegar, berusaha untuk mengumpulkan potongan-potongan hatiku yang dia hancurkan tanpa sengaja. 

Bulan demi bulan aku lewati namun semakin ke sini  aku tak merasakan kehadirannya lagi. Kini tak ada lagi yang mengusap kepalaku, tak ada lagi tangan jahil yang mencubit pipiku hingga merah, tak ada lagi permen coklat ajaib yang tiba-tiba ada di tasku. Dia telah pergi bersama orang yang dia cinta. Kami jarang sekali pergi berdua bahkan mengetahui kabarnya pun lewat media social. Aku terus berusaha melupakan kebiasaanku bersamanya, yaa itu saja yang bisa aku lakukan. 

Delapan bulan tanpa kabar, sampai suatu malam aku mendapat pesan singkat, disana aku temukan pesan darinya " Besok jam empat sore aku jemput kamu" aku bersiap dengan kaos biruku, dia tepat berada di depan rumahku melambaikan tangan dan membawakanku permen coklat. 

Sore itu kita di masjid sekolah, sambil menunggu senja. Aku takut dengan suasana sekolah yang selalu menyeramkan di malam hari. Kami memutuskan untuk pergi ke masjid terdekat. Kita singgah ke warung makan untuk mengisi perut yang sedari tadi berbunyi. Dia bilang tak mau pulang, katanya tunggu aku di telpon ayah. Dia tak sama sekali bercerita tentang pacar barunya, dia malah menyodoriku seribu pertanyaan yang membuatku bingung. Aku juga belum di telpon ayah, dia mengajakku keliling dengan motor besarnya. Dia selalu memiringkan motornya ke kiri ketika aku ingin naik diatasnya. Handphoneku bergetar, telpon masuk dari ayah. Wajar saja, ini sudah setengah sebelas. Aku minta untuk di antar pulang. jalanan sudah mulai sepi, toko-toko juga mulai tutup. Sesampainya di depan rumah, yang keluar dari mulut kami adalah ucapan selamat malam dan selamat tinggal.

Tak ku sangka itu adalah kali terakhirnya. Aku tidak paham, mungkin kita sama-sama memiliki perasaan yang belum tersampaikan. Kita tetap menjadi teman curhat, tapi tak sedekat dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar