Nyatanya aku hanya pura-pura mematikan rasa. Mematikan rasa pada ucapan, bahwa aku mati rasa, bahwa aku sudah bisa melupakanmu.
Lalu.. aku cari rasa yang baru. Rasa baru yang sebenar-benarnya belum mampu mematikan kamu, mematikan rasaku padamu, mematikan kamu yang telah terpatri kuat pada seluruh pikiran dan perasaanku.
Mengapa harus kamu?
Mengapa harus aku?
Mengapa harus pernah menjadi kita?
Mengapa kita harus saling mematikan rasa?
Mengapa dulu pernah merasa, dan ..
Pada akhirnya harus menjadi tiada?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar