Hal yang paling aku suka adalah ketika sedang menunggumu mengerjakan ibadah solat Jumat. Sedikit bosan tapi aku suka, apalagi melihatmu berlari kecil kearahku, jejakmu bagaikan tangga nada yang berkumpul menjadi suatu alunan berirama merdu. Kau adalah not balok yang tidak aku mengerti, pelan-pelan aku mengejamu dan sesekali salah dalam pelafalan. Kau adalah irama yang paling merdu, sampai kau kacaukan batinku dengan tanda nada yang hilang.
Aku bangkit dari tempat dudukku, menyambut senyum yang terlihat jelas dibibirmu. Aku membuka kotak bekal yang telah kupersiapkan, cuma ada nasi dan telur kornet. "Assalamualikum" katamu, sama seperti hujan yang terus menderas siang itu, suaramu sangat teratur bagai rintiknya yang jatuh.
Tidak terasa sudah tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu..
Kau pergi tanpa pamit, tanpa basa-basi, tanpa meniggalkan pesan suara yang setiap hari ku dengar menjelang tidur. Bukan pamit namanya kalau hanya meninggalkan sepucuk surat elektronik. Sesekali aku menghela nafas, ruangan ini sudah berbeda, tidak bergema dengan suaramu yang lucu ketika menirukan woody woodpecker, spongebob, sincan dan tokoh kartun lainnya. Memang sudah berbeda, ketika bangku yang seharusnya kau duduki harus berpindah tuan. Memang sudah benar-benar berbeda, ketika harus membiasakan tidak mendengar suaramu yang khas.
Kau pergi tanpa isyarat, lidahku kelu dan sama sekali tak mengeluarkan suara. Bahkan terisak tanpa ada sedikit perubahan gerak di tubuhku. Aku mematung kurang lebih tiga puluh detik, teman disebelahku menepuk punggungku dan berkata "aiueobabibubeboovuvewy" huruf yang terangkai menjadi kalimat yang dipadukan dengan nada seperti orang bertanya itu tidak dapat di artikan oleh otakku. Aku seperti mendengar suara alien yang biasa digambarkan didalam televisi. Aku bingung ketika duniaku mulai tak di mengerti.
Tanpa sadar, setiap pergerakan kecil akan ada suara yang dihasilkan. Dimulai dari langkah kaki saat kau menghampiriku, ketika bibirmu mulai mengecap dan bersuara "Assalamualaikum" dan balasan jawaban "Waalaikumssalam", serta suara pintu terbuka saat kau mulai meninggalkan ruangan yang ramai tapi sepi itu. Ada yang datang ada yang pergi, ada yang berpasangan ada yang sepenggal, ada yang merdu ada yang sumbang. Seperti tangga nada yang memiliki aturan sempurna. Ku pikir ini klise, karna mungkin belum menemukan arti keselarasan, seperti tangga nada yang sudah kusebutkan berulang kali, ada tingkatan untuk menjadi manusia.
Iya sudah tiga ratus enam puluh lima hari, aku mulai kehilangan suara yang menuntunku pada jalan milik Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar